Telur, piring dan akhikah

Hidup berumah tangga dan bermasyarakat tak lepas dari kehidupan bersosialisasi. Salah satu bentuk sosialisasi dengan tetangga adalah manakala ada keluarga yang bertambah anggotanyan dengan lahirnya putra atau putri. Bagi keluarga muslim selain pemberian nama bagi sang bayi, mengakikahkan anaknya yang baru lahir untuk mengikuti sunnah rasul. 

Kami sering mengikuti kegiatan akhikah, yang biasanya selain melakukan potong rambut sambil diiringi shalawat nabi yang kemudian di isi ceramah agama dari sang ustad. Hampir rata rata makna kegiatan akhikah yang di sampaikan relatif sama. Namun tidak dengan yang kami hadir disalah satu tetangga kami. Ceramah agama ini juga sudah biasa kami ikuti dari ustad di komplek perumahan kami. Tapi kali ini berbeda gaya penyampaiannya.

Ceramah akhikahnya sungguh beda, penyampaian sederhana, simbolik tapi mengena. Kurang lebih begini alur ceritanya.. mohon maaf kalau tidak seratus persen sama. 

Saat ceramah akan di mulai, sang ustad meminta kepada sohibul hajat agar meminta disediakan satu buah piring dan satu buah telor ayam. Sontak saya berpikir wah ini mau pakai magic, bid’ah atau mistis apa ? Dan ternyata saya juga mendapatkan pemahaman dari orang lain juga berpikiran kurang lebih sama, mitos!!!

Namun sungguh diluar dugaan kami, sang ustad dengan pelan bertanya kepada para bapak yang hadir, dan bertanya bagaimana supaya telur dapat berdiri dan tidak jatuh atau menggelinding ? Sang ustad mencoba mendirikan dan melepas ujung jari yang menempel di telur saat menjaga agar telur tetap berdiri, tapi lagi lagi telur itu terjatuh dan mengelinding di atas piring. Sang ustad mencoba menjelaskan makna bahwa telor ibarat seorang bayi, supaya dia kelak menetas tentu perlu di erami dan di jaga serta dirawat oleh induknya atau orang tuannya. Dari awal pertumbuhan seorang bayi tentu mendapatkan perlakukan terbaik dari orang tuanya.

Ini gambaran telur yang di taruh di keranjang

Kembali lagi sang ustad memberi contoh mendirikan telur dengan memegangi dengan ujung jari pertanyaan sang ustad kembali disampaikan apakah kita terhadap anak kita akan terus terusan memegangi anak kita seperti contoh telur ini yang dalam gambaran nya anak kita supaya mereka bisa berdiri dengan mandiri? Jawaban para bapak yang hadir pastilah tidak, kita harus melepaskannya supaya kelak bisa berdiri diatas kaki sendiri.

Tapi lagi lagi telur itu mengelinding terjatuh, sang ustad kembali bertanya bagaimana caranya agar anak kita bisa mandiri? Dan kita tidak bisa menjaga terus terusan agar telur tetap berdiri, padahal dalam kehidupan nyata banyak orang mengatakan bahwa hidup ini keras. Dalam mendidik anak kita juga harus demikian, ada kalanya dan lebih banyak seharusnya lemah lembut dan kasih sayang tapi diperlukan ketegasan dan bahkan kalau perlu “keras” khususnya sesuai pertumbuhan psikologi dan kematangan fisik. Kalau mereka salah harus diingatkan dengan baik, tapi kalau berulang ulang tidak salah pula kita dengan keras supaya mereka teringat dan ini salah satu bentuk menumbuhkan karakter anak dimaksud, walau kadang di awal akan terasa sakit tetapi tujuannya agar merka belajar kuat menghadapi kerasnya kehidupan. 

Pembentukan karakter anak harus dilakukan sejak dini, kalau terlambat akan susuah untuk meluruskannya apabila tidak on the track. Kembali kepada simbolisasi telor, piring dan akikah, sang ustad akhirnya memegang telur dan mengankat telur tersebut di ujung terpanjangnya dengan salah satu jarinya kearah atas dan dengan cepat memukulkan telur itu ke piring, dan apa yang terjadi salah satu ujung telor pecah dan retak cangkanya namun tidak sampai isi telornya keluar subahanallah telur itu akhirnya bisa berdiri diatas piring, dan tangan sang ustad bisa lepas tanpa memegang telur itu kembali. Sang ustad akhirnya menyimpulkan demikian adalah simbolisasi kita menjaga, mendidik dan merawat anak kita sehingga kelak bisa bertumbuh sebagai anak dengan karakater yang baik dan bisa mandiri kedepanya yang dirawat dengan kasih sayang serta harus keras jika diperlukan. 

Dan aku pun terbukakan bukan mitos, bid’ah atau magis tapi ilmiah sederhana dan mudah dipahami, sebuah pendekatan dan gaya penyampian baru yang saya dapatkan dari kajian di akhikah ini. Terima kasih ustad dengan penuh doa, semoga kami bisa di pertemukan di syurga kelak, kalau tidak menemukanku maka mohonkanlah kepada Allah swt supaya aku bisa ke syurga karena saya pernah jadi jamaah mu waktu didunia ini. Aamiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: