Mengulang ulang kesalahan

Manusia adalah sebagai mahluk yang tidak luput dari kesalahan. Demikian selalu yang kita pahami apabila kita sendiri baru saja melakukan kesalahan atau memberi nasihat kepada orang lain yang baru saja melakukan kesalahan.

Namun inilah sifat manusia yang mempunyai nafsu, berbeda dengan mahluk ciptaan Allah lainnya yaitu malaikat. Karena nafsu inilah yang kadang menjadikan manusia akan di hitung baik dan buruknya di mata Allah, apabila kita juga bisa mengelola nafsu tersebut insya allah kita akan selamat dunia akhirat dan mempunyai derajat yang tinggi di mata Allah walaupun tentunya juga harus menjalankan amalah dan ibadah lainnya.

Nah sekarang saya tidak akan membaha dari sisi religius, tapi dari ilmu perubahan perilaku (behaviour change), yang menurut saya pahami perubahan perilaku seseorang itu tidak dengan serta merta bisa berubah dalam waktu yang relatif pendek, tetapi selalu memerlukan waktu yang lama. Karena manusia selalu menghitung dari sisi dampak risiko yang dirasakan langsung. Pengalaman atau kejadian yang berisiko kepada orang lain tidak serta merta akan di jadikan referensi diri secara langsung, hanya dalam tingkatan pemahaman (knowladge) tapi belum sampai pada tingkatan tindakan (practice/action).

Berikut catatan dan amatan saya berdasarkan pengalaman pribadi atau membaca buku kehidupan :

Pesan untuk dilarang melawan arus, masih banyak yang melakukan padahal risikonya bisa jadi kecelakaan bukan hanya buat kita tetapi orang lain yang menggunakan jalur sebenarnya karena kelalaian kita;
Pakai helm, kalau tidak jauh atau tidak melewati jalur yang ada polisinya tidak memakai helm selain pemkaiannya juga harus dengan benar tentunya;
Dilarang menyandar pintu otomatis, banyak juga penumpang commuter line yang melakukannya;

Masih banyak lagi tindakan atau bahkan sudah menjadi perilaku yang secara pemahaman atau kesadaran tinggi risikonya tetapi upaya preventif yang saya atau kita sudah ketahui sering di abaikan. Istri saya selalu menggunakan frase ” stupid behaviour”. Jadi apakah saya dan anda semua juga termasuk dalam kategori masih sering melakukan tindakan berisiko dan selalu di ulang? Bahkan karena terlalu sering kita merasa bahwa gak papa koq, atau toh kecil risikonya, semua statment tadi adalah pembenaran diri yang akhirnya menutup rasionalitas berpikir kita.

Semoga kita bisa memulai displin dengan hal hal yang “remeh temeh ” untuk menghindari risiko yang akan terjadi dengan mengurangi kecerobohanku dan mungkin kamu juga, dengan tidak melakukan kesalahan yang berulang.

Ditulis di commuter line dan bus

Posted from WordPress for Windows Phone

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: