Tari Kecak, menumbuhkan adrenalin kami

Tari Kecak, spontan ingatan kita langsung tertuju pulau dewata ya… Pulau Bali. Tarian ini dilakukan melingkar dengan banyak orang dan gerakan utama adalah menggunakan tangan kita yang seolah olah tampak seperti api yang membara.

Menurut Wikipedia ( http://goo.gl/HPBL3f ) Kecak (pelafalan: /’ke.tʃak/, secara kasar “KEH-chahk”, pengejaan alternatif: Ketjak, Ketjack), adalah pertunjukan tarian seni khas Bali yang lebih utama menceritakan mengenai Ramayana dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan “cak” dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar[1], melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.

Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.[butuh rujukan]

Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana.[butuh rujukan]

Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

Dalam kesempatan kegiatan saya di luar kantor dimana kita semua berkumpul sesama staf melakukan kegiatan outbond dengan maksud : Tujuan outbond, Ya intinya kebersamaan dan kerjasama untuk bisa membesarkan organisasi yang kita cintai dengan bekerjasama akan dihasilkan karya yang luar biasa.

Kami dibagi dalam empat kelompok besar engan di pandu lebih kurang sepuluh fasilitator profesional. Satu kelompok kurang lebih sekitar 20-25 orang. Saya mendapatkan kelompok dengan vatian yang cukup beragam, kelompok “bola merah” dengan julukan ” bintang juara”. Dimana kamj mendapatkan tugas untuk di challange dengan tarian dari bali, ya tari kecak itu. Sementara tiga kelompok lainnya mendapatkan challange Tari saman dari aceh ditulis oleh echa dalam http://goo.gl/RYnzKU Permainan Perkusi untuk indonesia timur dan kelompok terakhir adalah permainnan angklung dari jawa barat.

Aneh rasanya belajar disaat kita sudah “tua” dan hubungannya apa kita pengen belajar kompak dan kerjasama dengan menari kecak, pertanyaan itu muncul di benak saya. Tapi ya sudah toh sekarang saya harus berperan sama seperti teman lainnya. Sebagai seorang peserta dan sudah ada pembimbing fasilitator uang bernama mba Hana, ya seorang putri dari bali asli yang akan mengajarkan kelompok kami. Jadi buat kami pas lah kami di bantu belajar oleh orang yang memang kompeten di bidangnya.

Langkah awal mba Hana memngajarkan dasar dasar gerakan tari kecak. Gerakan dasar itu adalah menggoyangkan tangan. Ada lima dasar gerakan yaitu kecak atas, kecak panjang, kecak pendek, kecak kanan dan kecak kiri. Ada gerakan berdiri menggerakan bahu saling kontak mata kesemuanya hanya mengikuti musik yang berbeda intonasinya semakin cepat intonasinya akan semakin cepat pula gerakan yang harus dilakukan.

Kurang dari dua jam kami belajar gerakan dasar, tanpa musik, menggunakan musik, kombinasi tari dari salah satu rekan kami yang menjadi dewi shinta, ada yang berperan sebagai rahwana dan ada juga kera putih si hanoman. Dengan senang dan penuh tantangan kami belajar dari kesalahan dan berulang ulang terus hingga kami mendekati harmoni kelompok yang di harapkan oleh mba Hana selaku fasilitator kelompok kami. Bukan karena predikat juara yang kami kejar tapi bagaimana kami harus tampil bagus dan maksimal pada saat pementasan nanti.

Dan benar pementasan waktunya telah tiba, ejekan dan kata kata negatif keluar dari master fasilitaor. Mereka membandingkan kelompok kami sangat kalah dalam menghadapi challage yang di berikan oleh fasilitator yang dilakukan oleh kepada anak sma… Wah semakin naik lagi semangat kami…. Dalam hati “asemmmm” saya di bandingin dengan anak sma rendah sekali kita ini. Dan ternyata itu hanya pancingan supaya kami harus lebih baik lagi dalam memberika performance. Masuk diakal apa yang dilakukan oleh para fasilitaor. Dan tiba pada puncak acara adalah kami di challange bagaimana empat kelompok ini bisa menyuguhkan orkestra yang sangat bagus dan tercipta harmoni yang sangat cantik, ada gerakan tari, ada irama musik angklung dan perkusi di padukan dengan vokal dari yang lain … Sungguh luar biasa walau di tengah challeange yang kami hadapi ada satu kelompok yang sangat “mengganjal” bagi fasilitator karena kurang displin dan tidak kompak artinya best performance tidak akan kami dapatkan, walau kami di kasih kesempatan tiga kali main. Benar pada putaran pertama kami ” gagal” peluit keras di bunyikan oleh master fasilitator setelah berdiskusi meminta persetujuan leader kami bahwa salah satu orang “kerikil kecil” di kelompok tidak kompak. Awalnya kami tidak percaya apa yang dilihat oleh master fasilitator karena kami juga fokus dengan pekerjaan kita masing masing. Namun setelah diskusi kecil master fasilitator dengan team leader kami, dan mimik muka team leder kami menyatakan setuju… Maka peluit itupun berbunyi panjang dan kami harus menghentikan aktivitas masing masing. Kami di buat panik, di beri peluang untuk latihan kembali kalau mau mengambil kesempatan itu. Tapi saya secara pribadi mengajak teman satu kelompok dan kelompok lainya untuk lanjut dengan tetap fokus dan konsentrasi untuk menampilkan yang terbaik. Moment inu adalah moment saling memberikan dukungan kepada kelompok lainya.. Kembali suara dari fasilitator menantang kami,,,, awas jangan sampai gagal lho ya…. Ini sudah di kasih kesempatan…. Anda tidak mau pergunakan…. Semua cacian namun justrubkami buat sebagai motivasi untuk memacu kami menampilkan performance terbaiknya…. Akhirnya setelah diskusi dengan team leader dan para asissten team leader kita sepakat lanjut…. Suasana tegang terlihat dari raut muka kita semua. Termasuk team leader kami. Saat musik pembuka di nyalakan satu dua kelompok muakai memainkan peran masing masing untuk menjadikan best performance dalam kesempatan ini. Dan benar setelah lebih dari enam menit berlalu kami tanpa kesalahan akhirnya teriakan dan ucapan selamat dari master fasilitator dengan mengatakan “…. Selamat organisasi ini sangat pantas di isi oleh orang seperti kalian demi terwujudnya PMI yang lebih baik…. Haru kami mendengarnya san bangga yang paling kelihatan sekali adalah mimik muka team leader kami begitu lepas saat performance itu usai…

Uhhhh aku juga menulis denga suasana tegang seraya masih dalam suasana waktu itu… Subahannallah… Ternyata kita bisa bekerjasam sakjng dukung mendukung hingga terwujudnya pelayana. Yang terbaik bagi masyarakat yang membutuhkan jika kita mau… Masalahnya apakah kita kompak hanya pada saat outbond atau kita mengaplikasikan dalam kehidupan keseharian di kantor kita tercinta… Semoga .. Sukses selalu. Amin

Ditulis saat menunggu rekan rekan masuk kantor karena gerimis menyambut dj pagi hari ini.

Posted from WordPress for Windows Phone

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: