Penilaian pada kurtilas

Pagi ini saya bersama istriku harus mengambilhasil evakuasi belajar semester ganjil pada tahun pelajaran 2014/2015. Dua anak kami yang terbesar dan adeknya sekarang ini sedang mengenyam pendidikan di sekolah dasar yang secara geografis administratif masuk wilayah kabupaten bogor meski sangat deket dengan rumah kamu yang masuk wilayah kota madya Depok.

Memang sekolahan anak kami juga termasuk yang satu semester ini menerapkan kebijakan pemerintah dengan kurikulum tahun 2013 (kurtilas). Dengan kebijakan terbaru dari menteri anies maka secara otomatis sistem evaluasi belajar mengajar akan berubah pula kembali ke kurikulum sebelumnya yaitu 2006 atau mungkin KTSP.

Sebelum di terima rapor kurtilas ini, sepertinya menjadi momok sendiri bagi para pelaku pengajaran di sekolahan utamanya para guru. Dari berbagai persiapan yang musti disesuikan serta tuntutan partisipasi dari orang tua untuk terlibat aktif dalam mengikuti pola belajar anak kita. Salah satu yang membedakan penilaian dikurtilas ini adalah materi ajarnya dengan “tematik” yang merupakan penerapan pengetahuan serta ketrampilan siswa disesuikan dengan penerapan keilmuan dalam kehidupan keseharian, dengan disesuikan sikap siswa terhadap nilai nilai keilmuan iti sendiri.

Nilai yang dijadikan indikator evalausi belajar pada kurikulum sebelumnya berupa numerik / angka yang merupakan simbol dari tingkat pemahaman dan ketrampilan siswa didik diperbandingkan dengan skala ukur yang telah di tetapkan. Pada evalausi belajar kurtilas ini tidak lagi berupa angka angka yang merupakan simbol dari kemapuan belajar siswa didik di wujudkan untuk mengkur tingkat kerhasilannya. Penilaian naratif yang di tulis oleh seorang guru kepada anak didiknya dilihat betul baik dari domain pengetahuan, tingkat pemahaman siswa, ketrampilan yaitu di hubungkan antara pengetahuan dan aplikasi nilai nilai imlu tersebut dalam penerapan keseharian. Sikap lebih di tonjolkan dari pengamatan individu guru terhadap pribadi pribadi siswa didik, memang dibutuhkan esktra “effort” dari guru untuk dapat memberikan penilaian terhadap tiap siswa khususnya sikap anak dalam memaknai ilmu terhadap sikapnya sebagai individu dan masyarakat.

Jadi sangatlah wajar para rekan rekan guru banyak tantangan untuk menjalankan sistem evaluasi belajar kurtilas ini. Buku rapor yang berbada, penilaian naratif dibutuhkan ketrampilan tersendiri dari seorang guru dengan menggabungkan domain pengetahuna, sikap dan ketrampilan tiap siswa didik

Posted from WordPress for Windows Phone

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: