Nasib kurtikas di mata Naflah

Era kepemimpinan mentri pendidikan dan kebudayaan M. Nuh, melahirkan kebijakan pemberlakukan kurikulum pendidikan tahun 2013 atau yang kita kenal kurikulum 2013 yang di singkat oleh para pendidik dengan singkatan KURTILAS.

Menurut Wikipedia : Kurikulum 2013 merupakan kurikulum baru diterapkan oleh pemerintah untuk menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang telah berlaku selama kurang lebih 6 tahun. Kurikulum 2013 masuk dalam masa percobaan di tahun 2013 dengan menjadikan beberapa sekolah menjadi sekolah percobaan. Di tahun 2014, Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap dan perilaku. Di dalam Kurikulum 2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan. Materi yang dirampingkan terlihat ada di materi Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb, sedangkan materi yang ditambahkan
materi Matematika. Materi pelajaran tersebut (terutama Matematika) disesuaikan dengan materi pembelajaran standar Internasional sehingga pemerintah berharap dapat menyeimbangkan pendidikan di dalam negeri dengan pendidikan di luar negeri.

Beberapa hari ini media dan kalangan dunia pendidikan sedang asin ramai membicarakan kurtilas ini karena menteri Anies, mengeluarkan kurtilas untuk di hentikan khususnya yang baru melakukan uji coba satu semester, dan meneruskan bagi sekolahan yang sudah menerapka lebih lama dengan dijadikan percontohan. Menteri Anies tidak memberhentikan kurtilas begitu saja tetapi akan dilakukan evalauasi / review terhadap kurtilas.

Bagaiama dengan sekolahan yang tidak jadi menerapkan kurtilas diminta kembali ke kurikulum tingkat satuan pendidikan ( KTSP ), Meski ada saja yang memplesetkan menjadi “kurikulum tidak siap pakai” yang mana mememang kurikulum KTSP ini bisa dikembangkan di tingkat satuan pendidikan. Yang menuntut pula para pendidik/ pengajar untuk aktif mengembangan kurikulum di masing masing sekolahan.

Saya memang bukan pelaku kurtilas, namun sedikit mengikuti perkembangan kurtilas. Paska pengumuman menteri anies, media makin sering mengangkat issue ini dengan berbagai judul berita, salah satu yang diangkat di media televisi swasta berjudul ” nasib kurikulum 2013″.
Suatu pagi kami menonton bersama siaran televisi dimaksud, anakku yang kelas satu sekolah dasar membaca dengan tegas judul topik yang didiskusikan, langsung spontan mba Naflah mengatakan sambil menunjuk judul : Ini kan nasibku, ya yah, tanyanya. Spontan saya surprise dengan epresi anakku. Yang sebenarnar tidak terlalu paham apa sebenarnya yang terjadi dengan kurtilas, hanya saja expresi dan gesture mba Naflah sambil menggerakan tangan kanannya ke dalam dadanya saat mengatakan ini nasibku kan yah????? Seakan ucapan itu penuh makna, yang pasti disesuikan makna dengan tingkat usianya.

Nah bagimana dengan kita sebagai orang tua, ada yang pro dan ada yang kontra. Yang pro pemberhentian kurtilas, karena didasarkan pelibatan full orang tua dalam mengikuti atau membimbing anak nya untuk menyelesaikan pembelajaran secara menyeluruh tidak hanya di kelas saja, bahkan di tuntuk untuk ikut aktif belajar. Karena dalam buku buku pelajaran anakku hampir selalu di jumpai instruksi untuk belajar dengan bimbingan atau bantuan orang tua. Bagi keluarga yang mungkin kuran responsif akan mengataka berat sekali kurikulum sekolah sekarang ini. Orang tua dituntut untuk belajar lagi dengan cara mencari tahu baik membaca buku atau hanya sekedar googling untuk mendapatkan informasi sehingga dapat membantu proses belajar mengajar anaknya. Fenomena ini sangat mungkin dijumpai di keluarga sekarang ini. Bagi mereka yang paham dan ada waktu mungkin dengan tekun atau pun terpaksa mencari referensi, namun bagaimana dengan yang lain. Buku ada tapi orang dewasa waktunya sudah terfokus untuk menopang kebutuhan keluarga. Jadi pilihan akses di dunia maya sangat tergantung dari minat orang tua, ketersediaan akses (jaringan internet dan biaya).

Pun demikian ada sebagian kita yang setuju dengan diberlakukan ya kurtilas, yang memang dalam bahasan materinya bukan mata ajar yang berdiri sendiri tetapi sudah terintegrasi dan dikaitkan dengan fungsing atau aplikasi dalam kehidupan keseharian atau kebutuhan kehidupan saat ini.

Kalau saya pernah diskusi kecil dengan temen temen pendidik (guru) banyak dari mereka memang tidak atau belu siap denga penerapan kurtilas ini, macem macem alasan yang dikemukakan : Peningkatan skill guru dan fasilitas penunjang menjadi salah satu alasanya. Yang dengan keputusan menteri aniea sebagain guru mengucapkan syukur tapi sebagian lagi sedih karena para guru yang langsung berhadapan dengan serbuan pertanyaan orang tua murid untuk meminta jawaban atas perubahan kurtilas ini.

Saya sebagai orang tua, mengharapkan adanya kejelasan sistem jangka panjang dalam pengembangan pendidika. Di indonesia jangan terlihat kebutuhan sesaat, ini terlihat dari ganti pimpinan ganti kurikulumnya jadi marilah kita semua komponen bangsa curahkan waktu, tenaga dan pikiran untuk sama sama membuat rood map dunia pendidikan kita untuk jangka panjang yang tentunya berdasarkan kajian ilmiah dan pengalaman praktis demi mewujudkan masyarakatbindonesia yang cerdas, dengan sms yang cerdas akan menjadikan bangsa kita maju di kancah dunia.

Terima kasih Naflah, atas expresimu. Sehingga ayah bisa menulis tentang kurtilas. Ditulis dengan waktu yang tertunda diantara asiknga kegiatan hari hari ini menjelang perhelatan akbar di tempat kerjaku. Ini opini pribadi tidak bermaksud menyudutkan pihak tertentu. Tetapi semata mata ungkapan atas hebohnya kurtilas di media sekarang ini.

Salam, semoga bermanfaat

Posted from WordPress for Windows Phone

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: