Belajar berbicara pada anak

Massa anak anak adalah salah satu tahapan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan nonfisik dari sebuah rangkaian siklus hidup manusia. Masa ini sering di kenal dengan masa tumbuh kembang, tumbuh lebih banyak dari sisi fisik seperti berat badan dan organ lainnya.

Perkembangan lebih mengarah pada fungsi seperti kemampuan berjalan, mengenal bentuk dan warna suatu objek, berbicara. Kemampuan Berbicara mempunyai karakteristik tersendiri dan asik untuk di amati. Masa antara 12-24 bulan saat si kecil mulai pintar menirukan apapun yang dia dengar.. Istilahnya “copas” abis dari yang dia dengar dari sumber suara di sekitarnya entah dari ibunya atau orang orang terdekatnya.

Dalam teori Perkembangan bahasa terbagi atas dua periode besar, yaitu: periode Prelinguistik (0-1 tahun) dan Linguistik (1-5 tahun). Mulai periode linguistik inilah mulai hasrat anak mengucapkan kata kata yang pertama, yang merupakan saat paling menakjubkan bagi orang tua. Periode linguistik terbagi dalam tiga fase besar, yaitu:
Fase satu kata atau Holofrase
Pada fase ini anak mempergunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang komplek, baik yang berupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa perbedaan yang jelas. Misalnya kata duduk, bag: anak dapat berarti “saya mau duduk”, atau kursi tempat duduk, dapat juga berarti “mama sedang duduk”. Orang tua baru dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksudkan oleh anak tersebut, apabila kita tahu dalam konteks apa kata tersebut diucapkan, sambil mengamati mimik (raut muka) gerak serta bahasa tubuh lainnya. Pada umumnya kata pertama yang diurapkan oleh anak adalah kata benda, setelah beberapa waktu barulah disusul dengan kata kerja.
Fase lebih dari satu kata
Fase dua kata muncul pada anak berusia sekkar 18 bulan. Pada fase ini anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang terdiri dari pokok kalimat dan predikat, kadang-kadang pokok kalimat dengan obyek dengan tata bahasa yang tidak benar. Setelah dua kata, muncullah kalimat dengan tiga kata, diikuti oleh empat kata dan seterusnya. Pada periode ini bahasa yang digunakan oleh anak tidak lagi egosentris, dari dan uniuk dirinya sendiri. Mulailah mengadakan komunikasi dengan orang lain secara lancar. Orang tua mulai melakukan tanya jawab dengan anak secara sederhana. Anak pun mulai dapat bercerita dengan kalimat-kalimatnya sendiri yang sederhana.
Fase ketiga adalah fase diferensiasi
Periode terakhir dari masa balita yang berlangsung antara usia dua setengah sampai lima tahun. Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Dalam berbicara anak bukan saja menambah kosakatanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengucapkan kata demi kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata kerja. Anak telah mampu mempergunakan kata ganti orang “saya” untuk menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan, akhiran dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungan. Anak mulai dapat mengkritik, bertanya, menjawab, memerintah, memberitahu dan bentuk-bentuk kalimat lain yang umum untuk satu pembicaraan “gaya” dewasa. Sumber (http://goo.gl/hKzbxg).

Massa anak anak ini merupakan momentum paling bagus untuk menyerap dan menyimpan memori. Jadi yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran proses berbucara antara lain:
Ajarkan banyak kata : Walau perlu mengajakan banyak kata kata, sebaiknya diusia hingga dua tahun kata kata yang pendek, satu suku kata.
Pilih kata kata yang nyata : Jangan mengajarkan anak anak dengan kata kata yang abstrak, tapi pikub kata kata yang memang di alami, dirasakan, dilihat. Jadi akan mudah di pahami oleh anak tersebut. Sering orang tua mengajarkan anak untuk menyebut alat kelamin dengan istilah daerah masing masing, sebenarnya boleh saja menyebut bukan bahasa ilmiah namun demikian sebisa mungkin gunakan yang ilmiah. Sebagai contoh anak laki laki, pada mengenalkan organ tubuh semisal menyebut “penis” mungkin sebagian kita tidak familiar, tapi itu bahasa ilmiah sampaikan saja selagi nyaman. Kalau mah menggunakan bahasa lokal pilih yang bisa mengantikan dan benar, jangan menyebut “penis” dengan sebutan “burung”. Kejadian nyata : Seorang tetangga yangnounya anak dibawah dua tahun dan ayahnya pelihara burung, saat ayahnya mendekat ke burung peliharaannya sambil berkata burung…. Dan diikuti gerakan tangannya naik turun untuk mengajak komunikasi si burung agak berkicau, kebiasaan ini diamati oleh si anak, yang terjadi pada saat sianak tersebut keluar rumah dalam kondisi telanjang tetangganya memanggil namanya … Sambil bilang dan menunjuk kearah penis sianak tersebut ….itu burungnya keliahatan… Respon anak tersebut langsung ingat apa yang dilakukan anaknya pada burung peliharaan bapaknya.. Tanganya anak tersebut di getak gerakan di depan “burung” nya dia seakan meniru gerakan ayahnya memancing burung pekiharaannya untuk berkucau.
Sampaikan dengan sebenarnya : Jangan di buat seakan anak intonasi anak kecil, sebagai contoh saat menyebut susu… Sebaiknya jangan menyebut ….cucu… Tegas katakan adek mau mimi/minum susu….

Jadi buat kita yang punya anak anak batita, pikuh kata yang tepat dan jadikan kita sebagai “role model ” untuk kamus bahasa anak anak kita. Semoga bermanfaat tulisan ini untuk kita semua.

Salam
Di tulis diatas kereta saat balik ke rumah dari stasiun kereta.

Posted from WordPress for Windows Phone

Posted from WordPress for Windows Phone

Posted from WordPress for Windows Phone

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: