Ilmu Titen

Dalam masyarakat modern sekarang ini, ilmu titen atau yang saya terjemahkan secara bebas sebagai ilmu turun temurun yang diajarkan dari orang tua atau leluhur kita berisi pesan ataupun pendidikan yang dalam bahasa modernnya dikenal dengan “lesson learn”. Pesan ini didasarkan dari kejadian atau fenomena alam yang sering terjadi berulang yang kemudian du simpulkan menjadi pemahaman yang dibenarkan.

Hampir mirip dengan metode ilmiah yang digunakan dalam rasionalisasinya, hanya kadang tidak terbukukan tetapi hanya menjadi bahan cerita kepada anak cucu dan sering dijadikan bahan “ngobrol” kala kegiatan berkumpul warga. Mengapa menggunakan metode ilmiah ? Iya karena secara prinsip proses penyimpulan didasarkan pada kejadian / fenomena alam yang sering terulang.

Ilmu titen adalah sebuah kajian ilmu yang paling populer di tanah jawa. Bahkan pada kerajaan-kerajaan terdahulu, seperti kerajaan mataram dan joyoboyo, ilmu titen sangat berperan penting pada keseharian mereka. Seiring berjalannya waktu, pengetahuan dan kepercayaan masyarakat tentang ilmu titen mulai berkurang, tak jarang masyarakat menganggap ilmu titen sebagai ramalan, malah sebagaian besar dari mereka menganggapnya sebagai mitos belaka. (http://goo.gl/nW3m62).

Titen dalam bahasa jawa artinya niteni, mengingat, menganalisa, mengobservasi. Dalam beberapa contoh sederhana pada jaman dahulu warga sekitar lereng gunung berapi mengenali tanda alam selain gempa (lindu) yang dijadikan sebagai “pitenger” atau tanda alam akan meletusnya gunung tersebut, yaitu dengan pengamatan bahwa hewan – hewan yang tinggal di gunung mulai turun ke lereng atau perkampungan warga.

Contoh lain, dimasyarakat jawa yang saya pahami tidak paham bacaan bacaan berat tentang iklim, namun bisa mengamati apabila ada tanda awan gelap dan disertai dengan semut di rumah kita yang keluar dari lubangnya dengan membawa serta telur telurnya, ini dijadikan pertanda akan hujan besar dan kemungkinan terjadi banjir. Fenomena alam dengan keluarnya semut yang di “titeni” sebagai tanda akan datang banjir.

Kejadian lain di tempat lain diluar jawa, yaitu saya temukan sendiri pada seminggu setelah kejadian tsunami Aceh dan sumatera utara pada 26 desember 2004, sepuluh tahun yang lalu. Saya kebetulan sebagai tim assesment mengunjungi kepulauan simelu. Yang secara hitungan pulau ini termasuk yang parah terkena dapat tsunami, namun dari sisi jumlah korban jiwa sangat sedikit sekali. Dari hasil penelusuran saya, di simelu cerita turun temurun tentang tsunami sudah melekat dengan nama “semong” dan pesan yang ada adalah : Pada saat setelah gempa terjadi dan air laut surut JANGAN turun ke laut untuk menangkap ikan. Dari pengalaman ini lah yang kemudian dipedomani oleh masyarakat simelu, mereka lebih memilih lari ke bukit untuk menghindari gelombong Tsunami. Ini adalah salah satu ilmu titen yang di kenal tidak hanya di wilayah jawa.

Masih banyak catatan tentang ilmu titen atau niteni yang masih dan terus di pakai di masyarakat kita. Walaupun mungkin tidak di sadari oleh masyarakat sekarang ini. Sebagai contoh personal, saya termasuk cukup dekat dengan anak ketigaku mas igo, khususnya kalau hari sabtu dan minggu hampir spent time saya bersaman mas igo sangat banyak. Dan komentar istri saya pada haru senin pagi, mas igo seakan akan menjadi “kolokan”. Apa yang di “amati” oleh istriku adalah salah satu wujud ilmu titen. Banyak hal yang kita bisa temukan disekitar kita, yang tentunya ilmu titen ini banyak yang bisa kita pelajari.

Ditulis di samping senior ku yang jago nulis “mas husein”.

Posted from WordPress for Windows Phone

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: