Sinaran Mentari Pagi Menyelamatkan Kami

Aku dibesarkan dalam masa pendidikanku tidak terbisa dengan hidup berorganisasi, namun saat masa perkuliahan mengajakku untuk bergabung dengan KSR. Keberuntungan bergabung sebagai KSR menjadikan saya mendapatkan kesempatan mengaplikasikan ilmu dan ketrampilan dalam operasi kemanusiaan di propinsi Maluku Utara. Saat itu pada bulan Mei 2000 aku di tugaskan sebagai bagian dari tim PMI Pusat untuk operasi kemanusiaan akibat konflik yang berbau agama. Saat itu dikenal kelompok putih dan merah, kelompok putih adalah mereka yang berasal dari “muslim” dan kelompok merah aadalah mereka yang berasal dari “kristen”. Lambang warna ini sangat kentara sekali sebagai penanda masing masing kelompok yang bertikai. Di tingkat lapangan dan dalam bahan “ucapan” sering pula dikenal dengan singkatan butan “acan” dan “obet”, yang berarti acan berasal dari kata hasan yang merupakan nama dari kelompok muslim, sedangkan obet berasal dari kata robet yang merupakan nama dari kelompok Kristen.
Pada suatu hari kami harus keliling kepulauan halmahera untuk mendistribusikan bantuan makanan, non makanan dan pelayanan kesehatan. Tim kami menggunakan kapal reguler yang kami sewa khusus untuk operasi pelayanan kemanusiaan PMI, dalam kapal kami membawa paket Family kits rata rata 1000 paket. Dengan membawa serta tim relawan PMI Malut kurang lebih 10 orang dan juga lebih kurang 5 abk kapal. Sebagai ciri khas kapal kami pasang dengan bendera cukup besar di lambung kapal bendera warna putih dan tanda cross berwarna merah, yang merupakan emblem dari ICRC, yang merupakan tanda perlindungan untuk respon PMI Di daerah konflik.
Kapal yang kami tumpangi bisanya beroperasi 4-5 hari untuk sakali operasi, lingkup operasi kami hampir seluruh wilayah Maluku utara, yaitu wilayah kepulauan yang waktu saya belajar IPS disaat SD saat membaca peta pulau pulau kecil itu kadang sukar untuk terbaca, tapi operasi ini menjadikan saya memahami betapa banyaknya dan luasnya nusantara ini. Operasi kami sering dilakukan pada saat siang hari, dan malam hati kami gunakan untuk perjalanan dari pulau ke pulau di kepulauan halmahera. Saat kami akan menyambangi salah satu wilayah di kepulauan halmahera, dimana di daerah tersebut terdapat hampir sekitar ratusan warga yang sudah terisolir dari kelompok “merah”, yang tentunya operasi kemanusiaan PMI dilakukan kepada semua pihak sesuai dengan salah satu prinsip dasar palang merah yaitu prinsip KENETRALAN.

Sebagai gambaran kondisi dan situasi saat itu, sebagai wilayah konflik, hampir tidak bisa dipisahkan dari sejanta tajam dan api rakitan, selalu kami jumpai diantara dua kelompok yang bertikai. Korban kematian pun sudah sering dilaporkan terjadi diantara dua kelompok. Suasana ketegangan dan “menyeramkan” tidak bisa kami hindari. Kembali ke situasi dimana kami akan melakukan upaya distribuasi bantuan di salah satu wilayah terisolir yang merupakan daerah dari kelompok “merah”, waktu itu kami akan merapat ke bibir pantai terlalu pagi, sekitar jam 6 pagi, jarak kapal dengan pantai kurang lebih 500 meter dan untuk menuju ke daratan hanya bisa dengan menggunakan “ketinting” sebuah perahu kecil terbuat dari kayu. Saat kapal kami lego jangkar, ternyata disambut dengan suara keras beberapa yang berasal dari senjata rakitan dan bom molotov, dua jenis senjata tajam dan api rakitan digunakan oleh kedua kelompok, sebagai bagian memepertahankan diri mereka. Mendengar letusan itu kami agak menjaga jarak, kami menyampaikan informasi dengan menggunakan mega Phone yang kami bawa selalu untuk memudahkan dalam pembagian bantuan, namun upaya kami sia sia, karena jarak dan lokasi di pantai kemungkinan mereka tidak bisa mendengar informasi yang kami sampikan. Kamu mencari tau kenapa mereka meletuskan senjata api dan terdengar ledakan saat kami mendekat, saat itu tidak ada yang paham walau dengan megaphone kami sampaikan kami dari palang merah. Kami tersadar setelah salah satu relawan kami melihat ternyata bendera yang ada di tiang kapal yang kami naiki ternyata karena pagi hari sehingga benderanya basah oleh dinginnya udara laut di malam hari, sehingga tampak oleh mereka di darat kapal kami, adalah kapal berbendera putih karena warna merah dari tanda cross itu terlipat oleh karena bendera basah. Saat itu kami hanya bisa berbuat dengan menjaga jarak agak menjauh dan menunggu sang mentari pagi untuk membuat bendera kami tampak terlihat dari bibir pantai sebagai bendera palang merah yang akan memberikan bantuan. Dan hal ini juga di sampaikan kepada perwakilan dua orang yang berasal dari kelompok “merah” dengan menaiki ketinting mendekat ke kapal kami dengan membawa senjata tajam, sambil memminta maaf kalau mengira kapan PMI adalah kapal dari kelompok lainya yang akan menyerah wilayah mereka. Saya telah itu bantuan kemanusian kami diatribusikan dengan mggunakan kapal beberpa kapal ketinting yang dipunyai warga. Suasa ketegangan mereda dan misi kami telah tunaikan untuk memberikan bantuan kepada siapapun.
Demikian lah cerita singat, dimana arti penting lambang sebagai tanda perlindungan tim penolong disaat situasi konflik bersenjata, berkat pertolongan Allah swt, Tuhan semesta alam yang melalui pertolonganya melindungi semua petugas kemanuasian PMI dengan memunculkan mentari untuk mencerahkan dan menghangatkan bumi ini dengan sinarnya.

Posted from WordPress for Windows Phone

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: