Memangkas Biaya Pelatihan PMI

Pemikiran ini sengaja ku tulis agar aku bisa lebih tenang dalam bekerja, karena kadang ide – ide yang aku temkan manakala aku melakukan “konteplasi ” tentang PMI ide – ide itu hadir. PMI di kebanyakan orang masih identik dengan “DARAH” padahal kalau kita selami secara lebih dalam, seabreg dech tuch yang namanya pelayanan PMI, baik pelayanan pra emergensi ( kesiap siagaan bencana, tanggap flu burung, pencegahan HIV, dll); masa emergensi berlangsung ( relief , evakuasi, dapur umum; dll) serta masa rehabilitasi.

Dalam rangka meningkatan layanan yang diberikan kepada orang-orang yang membutuhan ( vulnerable group), PMI mempunyai unit yang bertanggung jawab dalam penyedian Sumber Daya Manusia PMI yang akan melakukan pelayanan dimaksud. Sumber Daya Manusia PMI antara lain : Pengurus, Staf/karyawan; dan Relawan. Relawan PMI di antara nya adalah : PMR ( Palang Merah Remaja); KSR ( Korps Sukarela) dan TSR ( Tenaga Suka Rela) yang berasal dari para kaum profesional yang terbingkai dalam wadah reawan PMI.

Untuk dapat menciptakan relawan PMI dengan sendirinya dilakukan upaya pendidikan dan pelatihan agar para relawan tersebut memiliki kompetensi sesuai kebutuhan layanan di lapangan / masyarakat. Pendidikan dan Pelatihan dimaksud tentunnya tidak sedikit biaya yang dibutuhkan, dalam delapan tahun terakhir ada peningkatan pelayanan yang menuntut PMI menyedian SDM PMI yang kompeten. Sebagai responnya adalah PMI begitu banyak melakukan pendidikan dan pelatihan “ini” dan “itu” sesuai dengan jenis pelayanan yang akan di berikan kepada masyarakat.

Setiap penyelenggaraan pendidikan dan latihan tentunya tidak sedikit biaya yang dikeluarkan, karena digunakan untuk transportasi, accomodasi, konsumsi, material penunjang pelatihan, honor pengajar serta uang saku peserta, itu adalah MENU wajib yang selalu dikeluarkan ( cost) oleh PMI. Jujur untuk kondisi keuangan mandiri ( atas pendaan PMI sendiri) tentunnya jauhlah dari “survive” tanpa dukungan “DONOR”. Banyak bukti untuk menunjukan hal ini, tapi tak perlu lah saya kemukakan disini.

Pemikiran saya adalah bagaimana PMI bisa memangkas biaya yang begitu besar untuk pelatihan yaitu dengan memangkas biaya : Transportasi, Akomodasi, … angka ini adalah penyebab meningkatnya biaya pelatihan, jadi kita bisa memotong biaya tersebut dengan cara ” MERUBAH PARADIGMA PELATIHAN DI PMI”. karena sekarang ini pelatihan yang ada terkesan menjadikan pelatihan PMI adalah pelatihan yang sangat formal yang ini kadang dipahami sebagai bentuk yang harus standart. mengapa tidak kita membuka wacana lain ” pendidikan formal — sekolah –” saja sekarang banyak orang yang mencari alternatif lain karena dirasa terlalu mengekang siswa didik, terlalu membuat bingka, beban tugas yang begitu banyak, bahkan ada siswa didik yang dalam kesehariannya kehilagan waktu santai / rilek karena “PR ” selalu ada untuk semua mata pelajaran. Dasar ini yang oleh sebagian kelompok masyarakat kemudian memilih afternatif pendidikan sekolah rumahan ( home schooling ).

Berkaca pada pendidikan ” UNIVERSITAS TERBUKA – UT” mungkin bisa dijadikan pilihan dalam rangka memangkas biaya Transportasi dan akkomodasi yang lagi-lagi bisa mencapai lebih 50 % biaya penyelenggaraan pelatihan. model UT bisa kita ( PMI ) adopsi, di level PMI Pusat menciptakan kebijakan dan sistemnya, level daerah sebagai superviser untuk cabang, PMI Cabang sebagai implemantasi palatihan jarak jauh. ide UT ini kalau dikawinkan dengan Teknologi Informasi ( TI ) adalah metode yang paling efektive dan efisien untuk mengurangi komponen biaya pelatihan yang dengan pendekatan ini bisa di tekan sangat kecil.

Perkawinan metode UT dan TI bisa dijadikan pilihan di masa depan; management UT di adopsi untuk membuat modul modul yang relevan demi peningkatan kompetensi relawan, alat evaluasi perlu di kembangkan sehingga bisa diukur perubahan sebelum belajar modul dan setelah belajar modul, TI di adopsi untuk penyedian media ajar ( dalam format elektronic), tetap menyediakan media cetak tapi dalam jumlah yang sangat minim, ini juga salah satu aksi ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM, hemat kertas artinya PENGGUDULAN HUTAN bisa di kurangi. Modul pelatihan dapat di akses melalui internet bagi daerah atau PMI Cabang yang sudah terpenuhi jaringan internet, bagi yang belum menggunakan versi cetak.

Apa peranan PMI Cabang; PMI Cabang berperan sebagai pintu utama : PUBLIKASI, PENDAFTRAN Calon relawan; tempat mengakses modul secara elektronik dan cetak, menyelenggarakan ujian ( bentuk sertivikasi) baik teori atau praktek. Ujian Praktek dilakukan untuk kompetensi tertentu seperti relawan yang pengin belajar tentang pertolongan pertama, perlu ujian praktek.

Dilanjutin lagi nanti ya… tapi kalau mau merespon silakan ya…

Advertisements

8 thoughts on “Memangkas Biaya Pelatihan PMI

Add yours

  1. Kang apa kerjaan PMI yang terlalu banyak yah…kalau orang bilang maruk…salah nggak kang…sehingga PMI tidak fokus. Apalagi kita lbh dikenal donornya dariipada yang lain. Apa perlu kita pangkas jg kegiatan PMI-nya…..he..he…jgn marah son!.

  2. Thanks idenya, PR untuk para Pengemuk eh Pengurus/Staf/Pelatih/Relawan PMI yang ada di seantero sebangsa air dan sebangsa tanah
    Itu salah satunya yg bisa dijalankan, salah duanya kalau SDM PMI di semua tingktan dah ada seharusnya tidak perlu biaya yang muahal mungkin
    Thanks
    dD

  3. Wah wah wah wah briliant banget tuh ide sangat bagus, tapi kayaknya kalo untuk PMI saat ini kayaknya belum siap, baik dari sisi SDMnya maupun sarana penunjangnya. for the future sih oke banget. thanks atas idenya akan jadi bahan pemikiran kami dalam mengembangkan Pelatihan PMI yang lebih modern.

  4. mas2 pake acara mangkas2 segala lha wonk dari dulu biaya buat pelatihan anggota KSR dah dipangkas mulu,liat aja ksr?relawat pada kurus2.kalo mau benerin yang ngaturnya bukan biayanya
    semoga kedepannya bagus ya PMI

  5. Sepertinya emang bener kang kita terlalu lebar…. tapi yang kita kerjakan sekarang ini emang gak salah lah kebijakannya ngomongnya emang begitu… mari kita sama sama membuat perubahan kecil secara pribadi untuk mewujudkan perubahan yang besar, agar jangan sampai para relawan kita makin kurus karena harus mengeluarkan biaya akses internet sendiri yang selayaknya di tiap PMI disediakan corner ” internet” sebagai perpustakaan buat para relawan di daerahnya

    Maaf ide pemikiran lanjutannya.. masih di kumpulin di tunggu aja ya

  6. Ok mas, idenya bagus kok! Tapi yang perlu dipikirkan adalah TIM-nya mas. MIMPI BAGUS TAPI TIMnya BURUK ya kebanyakan jadi MIMPI BURUK mas! Tapi harus TETAP OPTIMIS YA …

    Untuk komentar pa Miftah, oke pa itu rasional banget ! Tapi kapan siapnya ?
    Saya kira PMI harus beraini menanggapi ide-ide semacam ini dengan serius. Semua bermula dari mimpi akhirnya kita semua bisa naik pesawat terbang, nonton tv bahkan pake internet semacam ini ! Semoga tanggapan yang bapak berikan jangan hanya sekedar menanggapi, setelah itu hilang bersama dengan bergantinya PEJABAT BARU ! Mari kita olah ide-ide brilian semacam ini agar menjadi realistis dan dapat di realisasikan. Mungkin pada akhirnya tidak persisi seperti ide Mas Exwin, tapi lahirnya dari ide dasar ini.

    Jadi kalau BICARA UNTUK MASA DEPAN, itu berarti dimulai dari sejak Bapak MEMBACA TULISAN INI.

    Kalau para PEJABAT PMI saat ini memang benar2 serius ingin membuat perubahan dan kemajuan, SEMESTINYAKAN LAPAR IDE … Jadi kalau ada ide bagus, dari siapapun itu datangnya, semestinya ditampung dan diolah. Bukan hanya sekedar jadi WACANA.

    Untuk itu mari KITA DISKUSI, lewat apapun ! Kita olah bersama sehingga semoga saja hasilnya akan lebih maksimal. Masih banyak ide-ide lainnya yang dapat dan berguna demi kemajuan PMI.

  7. Sangat setuju Bung Wingit,…. saya hanya bangun dari tidur setelah saya mimpi… terus buru-buru untuk menuliskan dalam catatanku…. dan saya tetep optimis kalau akhirnya ide ini akan berlanjut dan mendapatkan respon walaupun tidak presisi, SETUJU…..

  8. Mas idenya mang bagus… tp ngaksemua pelatihan pmi bisa d transfer melalui IT soalnya banyak sekali materi-materi kepalangmerahan yang berupa praktek kususnya bisa d peragakan lewat IT… yang kedua daya pemahaman orang kan beda-beda takutnya salah baca ahirnya salah persepsi dalam menerima materi….. maju terus PMI…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: