Siaga Lebaran #PMISiapBantu

Seperti halnya tahun tahun sebelumnya PMI selalu setiap tahun melaksanakan Siaga Lebaran.. 

Buat rekan rekan PMI berikut media kampanye untuk dinpergunakan dalam pelayanan siaga lebaran tahun ini ya 

Ngaji “Barlen”


Alahamdulillah, pijinsyukur atas nikmat untuk busa belajar menambah ilmu dalam forum kajian ba’da Subuh di hari kedelapan bulan ramadhan tahun 2017. Pagi ini Masjid Nurul Jannah, kedatangan ustad dannguru ngaji yang sebenarnyan jadwal warga untuk memberikan kultum subuh. Kesan pribadi saya suka dengan guru ngaji yang model begini karena di bawakan dengan contoh real dan di suguhkan dengan gaya khas “guyon”.

Adapun sari sari penting ngaji ku pagi ini adalah 

Hal hal yang menyebabkan sesorang berdosa:

  1. Godaan setan : seseorang yang berdoasa karena memang disebabkan oleh godaan setan, seperti saat buoan puasa seperti sekarang ini ada orang yang menawarkan untuk mebatalkan puasa, atau bahkan tidak usah berpuasa toh gak kelihatan orang lain.
  2. Hati yang kotor : hati yang kotor akan menjadikan seseorang tertutup untik berbuat baik, jadi selalu saja melakukan tindakan yang tidak baik atau maksiat kepada Allah swt.
  3. Kebiasaan : salah satu kegiatan yang menjadikan dosa pada diri kita adalah kebiasaan, kadang kita tidak merasa bahwa apa yang kita lakukan itu adalah dosa.

Jadi kita sebagai manusia, khususnya manusia yang beriman mendapatkan panggilan untuk berpuasa, dan atas puasanya secara ihklas dan hanya mengharap ridha dari allah maka balasannya pahala yang belimpah. Karena manusia tempatnya salah dan dosa, allah juga di bulan ramadhan ini memberikan fasilitas bagi mereka yang menjalankan puasa dsn memohon ampunannya akan di kabulkan semua permohonan nya dan dijadikan ke fitrahnya.

Orang yang bertakwa di ibaratkan seperti sebuah pohon yang berbuah kebaikan sepanjang masa tak kenal musim, buah secara terminologi alquran terbagi menjadi dua jenis. Yaitu pohon yang berbuah musiman dan pohon yang berbuah tak kenal musim atau sepanjang waktu. 

  1. Tempat : sebagai bukti ketaqwaan kepada allah dengan beribadah yang berdasarkanntempat, seperti ibadah haji, shalat dan berdoa dintempat tempat tertentu di makah dan madinah.
  2. Waktu : ketaqwaan seseorang akan meningkat dalam bentuk pelaksaaan ibadah yang berdasarkan waktu waktu tertentu, sebagai contoh berdoa pada saat sebelum imsyak dan saat berbuka. 
  3. Kondisi : seseorang rajin beribadah, bukan karena ketaqwaan kepada allah, tapi karena kondisi, manusia biasanya melakukan rajin beribadah karena kondisi, sebagai contoh seorang menantu rajin ke masjid karena mertuanya datang kerumah kita. 
  4. Kepentingan : seseorang rajin beribadah karena faktor kepentingan, bukan karena semata karena Allah, sebagai contoh ada beberapa orang rajin ke mesjid dan berbuat baik karena punya kepentingan mau mencalonkan sebagai lurah, atau pejabat.  

Manusia dalam al quran di kenal dengan 4 sebutan, yaitu :

  1. Bashar  : makna ini ditujukan manusia dengan tanda dan fungsi secara fisik, seperti warna kulit, badan dintumbuhi rambut, hal ini di ceritakan bahwa para nabi adalah dari manusia biasa, sama seperti lainnya, yaitu di lihat daei penampilan fisiknya, makanya banyak orang semasa itu menolak karena mereka mengangap nabi adalah manusia biasa yang sama dengan dirinya. Tidak melihat apa makna dan nilai yang di sampaikan tentang kebenaran. 
  2. Insan : makna ini lebih ditujukan manusia dari sisi jiwa, hati, psikologisnya
  3. Anas : makna anas adalah manusia dari sisi kehidupan sosial, 
  4. Bani Adam : makna manusia sebagai pengingat keturunan nabi adam yang berasal dari tanah. Jadi manusia berkecenderungan untuk mendekatinunsur tanah, sehingga sulit untuk bertindak “langitan” beribadah kepada allah swt.

Kajian subuh ramadan di hari ke 8 Ramadhan 2017. Sebuah catatan pribadi, mohon maaf kalau ada yang membaca kurang berkenan semata untuk pengingat diri, seperti pesan sang guru ngaji agar makna dsn situasi indshnya mengaji tidak menguap begitu saja… barlenbubar kelalen.

Manokwari visit

Untuk kesekian kalinya, mengunjungi salah satu kota di ujung matahari terbit dalam rangka kesibukan liburan nasional kenaikan isa almasih, 25 Mei 2017. Kami harus memyempatkan diri melakukan langkah persiapan dengan pihak lokal untuk hajatan akbar di September 2018 nanti.

Ketua Bidang PMR & Sukarelawan menyampaikan pemaparan kegiatan TKSN VI 2018
Lokasi pertemuan dan penginapan kami
Patung asmat, di salah satu toko roti gulung ( photo by: Septa)
Sambil nunggu pesawat untuk kembali ke Jakarta, mampir ke lounge

Fitnah dosa jariah

Di posting dari blasting wa group… ijin share untuk sang penulis

Dosa Jariah
BAHAYA FITNAH
“Kyai, maafkanlah saya yang telah memfitnah pak kyai dan ajarkan saya sesuatu yang bisa menghapuskan kesalahan saya ini.” Aku berusaha menjaga lisanku, tak ingin sedikitpun menyebarkan kebohongan dan menyinggung perasaan kyai.
Kyai Husain terkekeh. “Apa kau serius?” Katanya.
Aku menganggukkan kepalaku dengan penuh keyakinan. “Saya serius, Kyai. Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.”
Kyai Husain terdiam beberapa saat. Ia tampak berfikir. Aku sudah membayangkan sebuah doa yang akan diajarkan Kyai Husain kepadaku, yang jika aku membacanya beberapa kali maka Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Aku juga membayangkan sebuah laku, atau tirakat, atau apa saja yang bisa menebus kesalahan dan menghapuskan dosa-dosaku. Beberapa jenak kemudian, Kyai Husain mengucapkan sesuatu yang benar-benar di luar perkiraanku. Di luar perkiraanku—
“Apakah kau punya sebuah kemoceng di rumahmu?” Aku benar-benar heran Kyai Husain justru menanyakan sesuatu yang tidak relevan untuk permintaanku tadi.
“Maaf, Kyai?” Aku berusaha memperjelas maksud kyai Husain.
Kyai Husain tertawa, seperti kyai Husain yang biasanya. Diujung tawanya, ia sedikit terbatuk. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menghampiriku, “Ya, temukanlah sebuah kemoceng di rumahmu,” katanya.
Tampaknya Kyai Husain benar-benar serius dengan permintaannya. “Ya, saya punya sebuah kemoceng di rumah, Kiai. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”
Kyai Husain tersenyum.
“Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku,” katanya, “Berjalanlah sambil mencabuti bulu-bulu dari kemoceng itu. Setiap kali kau mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kau lalui.”
Aku hanya bisa mengangguk. Aku tak akan membantahnya. Barangkali maksud kyai Husain adalah agar aku merenungkan kesalahan-kesalahanku. Dan dengan menjatuhkan bulu-bulunya satu per satu, maka kesalahan-kesalahan itu akan gugur diterbangkan waktu…
“Kau akan belajar sesuatu darinya,” kata kyai Husain. Ada senyum yang sedikit terkembang di wajahku.
***
Keesokan harinya, aku menemui Kyai Husain dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulupun pada gagangnya. Aku segera menyerahkan gagang kemoceng itu pada beliau.
“Ini, Kyai, bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari 5 km dari rumah saya ke pondok ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang Kiai. Saya menghitung betapa luasnya fitnah-fitnah saya tentang Kiai yang sudah saya sebarkan kepada begitu banyak orang. Maafkan saya, kyai. Maafkan saya…”
Kyai Husain mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ada kehangatan yang aku rasakan dari raut mukanya. “Seperti aku katakana kemarin, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kau hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar sesuatu…,” katanya.
Aku hanya terdiam mendengar perkataan Kyai Husain yang lembut, menyejukkan hatiku.
“Kini pulanglah…” kata Kyai Husain.
Aku baru saja akan segera beranjak untuk pamit dan mencium tangannya, tetapi Kiai Husain melanjutkan kalimatnya, “Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kau menuju pondokku tadi…”

Aku terkejut mendengarkan permintaan kyai Husain kali ini, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya: “Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kaucabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kau kumpulkan.”
Aku terdiam. Aku tak mungkin menolak permintaan Kyai Husain.
“Kau akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” tutup Kyai Husain.
***
Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi kulepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di sebuah kendaraan yang sedang menuju kota yang jauh, atau tersapu ke mana saja ke tempat yang kini tak mungkin aku ketahui.
Tapi aku harus menemukan mereka! Aku harus terus mencari ke setiap sudut jalanan, ke gang-gang sempit, ke mana saja!
Aku terus berjalan.
Setelah berjam-jam, aku berdiri di depan rumahku dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasku berat. Tenggorokanku kering. Di tanganku, kugenggam lima helai bulu kemoceng yang berhasil kutemukan di sepanjang perjalanan.
Hari sudah menjelang petang. Dari ratusan yang kucabuti dan kujatuhkan dalam perjalanan pergi, hanya lima helai yang berhasil kutemukan dan kupungut lagi di perjalanan pulang. Ya, hanya lima helai. Lima helai.
***
Hari berikutnya aku menemui Kyai Husain dengan wajah yang murung. Aku menyerahkan lima helai bulu kemoceng itu pada Kyai Husain. “Ini, Kyai, hanya ini yang berhasil saya temukan.” Aku membuka genggaman tanganku dan menyodorkannya pada Kyai Husain.
Kyai Husain terkekeh. “Kini kau telah belajar sesuatu,”katanya.
Aku mengernyitkan dahiku. “Apa yang telah aku pelajari, Kyai?” Aku benar-benar tak mengerti.
“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab kyai Husain.
Tiba-tiba aku tersentak. Dadaku berdebar. Kepalaku mulai berkeringat.
“Bulu-bulu yang kaucabuti dan kaujatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kausebarkan. Meskipun kau benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yang beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kau duga-duga, ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kau hitung!”
Tiba-tiba aku menggigil mendengarkan kata-kata Kiai Husain. Seolah-olah ada tabrakan pesawat yang paling dahsyat di dalam kepalaku. Seolah-olah ada hujan mata pisau yang menghujam jantungku. Aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku ingin mencabut lidahku sendiri.
“Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri… Barangkali kau akan berusaha meluruskannya, karena kau benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kau tak tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kau tak bisa menghentikan semua itu! Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kau bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kau kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya.”

“Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Agama menyebutnya sebagai dosa jariyah. Dosa yang terus berjalan diluar kendali pelaku pertamanya. Maka tentang fitnah-fitnah itu, meskipun aku atau siapapun saja yang kau fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. Maka kau tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”
Tangisku benar-benar pecah. Aku tersungkur di lantai.

“Astagfirulloh hal-adzhim… Astagfirullohal-adzhim… 

Astagfirulloh hal-adzhim…” 

Aku hanya bisa terus mengulangi istighfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari kedua ujung mataku.
“Ajari saya apa saja untuk membunuh fitnah-fitnah itu, Kyai. Ajari saya! Ajari saya! Astagfirulloohal-adzhim…” Aku terus menangis menyesali apa yang telah aku perbuat.
Kyai Husain tertunduk. Beliau tampak meneteskan air matanya.“ Aku telah memaafkanmu setulus hatiku, Nak,” katanya, “Kini, aku hanya bisa mendoakanmu agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya bahwa Allah, dengan kasih sayangnya, adalah zat yang maha terus menerus menerima taubat manusia… Innallooha tawwaabur-rahiim…”
Aku disambar halilintar jutaan megawatt yang mengguncangkan batinku! Aku ingin mengucapkan sejuta atau semiliar istighfar untuk semua yang sudah kulakukan! Aku ingin membacakan doa-doa apa saja untuk menghentikan fitnah-fitnah itu!
“Kini kau telah belajar sesuatu,” kata Kyai Husain, setengah berbisik. Pipinya masih basah oleh air mata, “Fitnah-fitnah itu bukan hanya tentang dirimu dan seseorang yang kau sakiti. Ia lebih luas lagi. 
#selfreminder

Pencegahan Malware #back2basic

Dua hari ini kita di kejutkan oleh media di hampir 99 negara terserang Malwere yang merusak data di komputer kita, dengan mengunci semua dokumen untuk membukanya pihak penyebar malwere meminta uang tebusan. Sudsh banyak rumah sakit dan institusi lain yang diserang, khususnya mereka yang menggu akan OS Windows.

Himbauan internasional, termasuk mentri menkominfo juga membuat berbagai himbauan dengan live tv atau broacd cast melalui medsos. 

Pagi ini kami kinsultasi dengan staf IT kantor juga untuk melakukan langkah yang sama, nah karena dateng ke kantor pagi sambil menunggu update info lanjut maka kerja seperti biasa dengan kembali kepada jaman dulu non inet. 

Memasukan kertas ke mesin ketik manual
Memulai mengetik.. lupa bawa top ex
Ngepasin kursor agar presisi dalam hasil pengetikan

Belajar menghadapi tantangan Mba Jasmine melalui UN

Pagi ini hingga seminggu kedepan anak kami yang pertama akan belajar menghadapi ujian formal dalam proses kelulusan dari bangku pendidikan formal di sekolah dasar.

Ya jenjang Sekolah Dasar merupakan siklus terakhir dari Ujian Nasional dibandingkan jenjang SMP/MTS dan SMA/SMK/MA. 

Lain dulu lain sekarang, seperti yang kami rasakan berdua bersama istri, bagaiman gegap gempitanya menghadapi ujian ini sangat kontras dengan kami pada jamannya. Awal awalnya kami harus stress karena gaya dan pendekatan anak sekarang sangat berbeda dengan masa kami. Namun akhirnya kami harus menyadari bahwa setiap jaman ada masa dan setiap masa ada  jaman

Anakku ini persembahan dan dukunga  semangat kami selaku orang tua agar kamu kelak menjadi orang yang berguna bagi keluarga, bangsa dan agama mu kelak. 

Anakku pesan mu tadi saat mengantar mu ke sekolah in sya allah ayah tunakain untuk mendukungmu dalam meraih jenjang pendidikan yang lebih lanjut. Namun anakku apapun hasil nilai ujian mu ini hanya syarat formal untuk melanjutkan pendidikan formal selanjutnya. Tapi jauh di balik itu semua, adalah pembelajaran bahwa hidup ini keras dan perlu di hadapi supaya kita bisa bertahan /survive serta mampu menjadi pengelola kehidupan diri sendiri dan orang banyak disekitar kita. Pesen ayah jangan berbuat curang ya nak, pahami setiap soal pikirkan kembali dan selalu memohon dan berserah diri kepada Allah SWT… aamiin

Sekarang dan tiga tahun lalu

Memory dan bukti sejarah.

Kondisi tetumbuhan dari arah lokasi yang sama di jembatan penyeberangan halte transjakarta, kindisi tergambar dalam jepretan kameraku pagi ini, 15 Mei 2017 dan 15 Mei 2014 atau tiga tahun lalu. 

Amati dan lihat perbedaannya :

Pengambilan gambar dari sudut yang sama pada 15 Mei 2017
Pengambilan gambar dari sudut yang sama 15 Mei 2014

Yang terjadi sekarang ini adalah peroses pembangunan LRT Jakarta, sehingga sedang dilakukan pembenahan sarana transportasi termasuk harus ter korbankan tetumbuhan hijau yang ada di sepanjang sisi jalan MT HARYONO ini. 

Semoga sembari memperbaiki saran transportasi pihak terkait juga tetep berupaya memperbaiki tetumbuhan korban untuk tetep menjaga kualitas kebersihan udara Jakarta.

Wawancara Mas Igo

Hari sabtu ini pada 13 Mei 2017, kami mempunyai agenda untuk mengantarkan anak ketiga kami wawancara di sekolah taman kanak kanak yang jadi pilihan kami.

Observasi psikologi dan motorik anak oleh guru

Ya tahun ajaran 2017 ini, Mas Igo anak ketiga kami akan memasuki bangku sekolah, sekolah taman kanak kanak. TK yang kami pilih adalah TK Islam Pelangi, TK ini berbada dari kakak kakaknya mengawali dunia pendidikan formal di awal proses belajar di kelasnya. 

TK Islam Pelangi terletak kurangblebih 2 KM dari rumah kami, TK ini jadjnpilihan kami karena tertarik dengan pendekatan dan kurikukum berbasis pendidikan ke islaman, serta lingkungan yang kali lihat cukup asri serta luas dengan sarana bermain yang cukup banyak serta pengaturan jam istirahat bergantian supaya setiap anak phnya kesempatan mengexplore semua saran bermain dengan merata.

Ada hal yang menarik selain alasan tersebut diatas adalah kecintaan mas igo dengan seragam polisinya, ya disekolahan ini salah satu seragam wajib adalah berseragam polisi cilik. Yang tentunya sangat sejalan dengan semangat mas igo saat ini begitu cinta pada figur polisi. 

Semoga kelak kami menikmati dan banyak ilmu yang kamu dapatkan di awal belajar pendidikan formal untuk masa depan mu ya nak. 

Majelis Hakim Yang Adil…percaya dan penuh hormat

// Mengenal Sosok Ketua Majelis Hakim Yang Memvonis Ahok 2 Tahun Penjara //

Catatan ringan Ilham Bintang.
Rasanya sulit dipercaya, namun begitulah faktanya, setiap hari dari rumah  ke kantor pulang pergi ia  naik angkutan umum  busway. Itulah hakim H. Dwiarso Budi, Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang memimpin majelis hakim sidang perkara penistaan agama oleh Gubernur  DKI non aktif Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok mulai Selasa (13/12) di Pengadilan  Negeri Jakarta Pusat, jalan Gajahmada, Jakarta.
Di mata kawan-kawannya ia dijuluki bonek ( bondo nekat). Bukan hanya karena kelahiran Surabaya, tetapi julukan itu menunjuk pada integritasnya sebagai hakim. Anti suap, antik gertak, kata seorang sahabatnya.
Lahir di Surabaya 14 Maret 1962, Inoenk begitu panggilan akrab
H.Dwiarso Budi Santiarto,SH.Mhum sampai sekarang pun masih tinggal di rumah dinas. Suami Yanti, SH. MH ( teman kuliah) dan ayah dua anak, Rio  dan Anya ini pernah menjadi ketua pengadilan di Kotabumi, Kraksaan, Depok, Banjarmasin, dan Semarang.

Puteranya, Rio (S1 ITB S2 UI ) saat ini tinggal di Jepang bekerja sebagai pelayan toko. Sedangkan Anya  (Hukum Unpar), sebagai pegawai pajak di Palangka Raya. Ada kisah menarik putera puteri Inoenk, ketika terjadi penangkapan terhadap Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar tempo hari. Kompak mereka meminta Inoenk berhenti jadi hakim karena merasa malu dengan professi ayahnya. Juga kompak berdua menyatakan biarlah mereka yang bekerja untuk menopang ekonomi orang tuanya.
Sarjana Hukum jebolan  SI Universitas Airlangga dan S2 Universitas Gajahmada dan terakhir Lemhanas (2016) ini adalah mantan Atlet Hoki  PON Jatim dan Atlet Tennis mewakili Provinsi  di mana dia bertugas waktu itu.
// Memutus seumur hidup koruptor BLBI//
Mantan Asisten/ Sekretaris
Mahkamah Agung ini sewaktu bertugas  sebagai Hakim Pengadilan Negeri Jakarta  Pusat memutus hukuman seumur hidup untuk koruptor BLBI

Waktu bertugas di semarang Inoenk juga memutus sengketa Gubernur Jateng lawan Pengacara Kondang Yusril dengan menghukum hakim temannya sendiri karena menerima suap dan beberapa koruptor serta pejabat Bupati Karang Anyar.
Keberaniannya untuk berbeda dengan alasan hukum yang rasional itulah yg membuat Ketua Mahkamah Agung Marsekal Sarwata sangat membanggakannya.
Dosen  favorit  Fakultas Hukum Universitas Trisakti itu kini menjadi tempat bergantung  harapan keputusan adil dari persidangan kasus penistaan agama Ahok. Sekian lama ia memang  menjadi gantungan harapan para penuntut keadilan yang mengharapkan vonisnya terhadap Ahok terbebas dari pelbagai intervensi supaya wajah hukum kita mendapat kepercayaan publik. Selasa (9/5) siang akhirnya ia membuktikan dirinya memang hakim yang berintegritas  tinggi. Meskipun sempat  dibayangi spekulasi dia juga akan dilumat pelbagai manuver seperti aparat penegak hukum lainnya yang masuk angin. Vonisnya,  Ahok terbukti bersalah, dan dihukum penjara 2 tahun. Langsung ditahan di LP Cipinang.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑