100 Perintah Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Al Qur’an untuk kehidupan manusia sehari-hari:

ini hasil postingan di group wa, nanmun karena syarat makna akhirnya saya posting di sini semoga bermanfaat buat yang lain 

1. Jangan berkata kasar (QS 3 – Ali Imran : 159)

2. Tahanlah amarah (QS 3 – Ali Imran : 134)

3. Berbaiklah kepada orang lain (QS 4 – An Nisaa’ : 36)

4. Jangan sombong dan arogan (QS 7 – Al A’raaf : 13)

5. Maafkanlah kesalahan orang lain (QS 7 – Al A’raaf : 199)

6. Berbicaralah dengan nada halus (QS 20 – Thaahaa : 44)

7. Rendahkanlah suaramu (QS 31 – Luqman : 19)

8. Jangan mengejek orang lain (QS 49 – Al Hujuraat : 11)

9. Berbaktilah pada orang tua (QS 17 – Al Israa’ : 23)

10. Jangan mengeluarkan kata yang tidak menghormati orang tua (QS 17 – Al Israa’ : 23)

11. Jangan memasuki kamar pribadi orang tua tanpa ijin (QS 24 – An Nuur : 58)

12. Catatlah hutang-hutangmu (QS 2 – Al Baqarah : 282)

13. Jangan mengikuti orang secara membabi buta (QS 2 – Al Baqarah : 170)

14. Berikanlah perpanjangan waktu bila orang yang berhutang kepadamu dalam kesulitan (QS 2 – Al Baqarah : 280)

15. Jangan makan riba’/membungakan uang (QS 2 – Al Baqarah : l

16. Jangan melakukan penyuapan (QS 2 – Al Baqarah : 188)

17. Jangan ingkar atau melanggar janji (QS 2 – Al Baqarah : 177)

18. Jagalah kepercayaan orang lain kepadamu (QS 2 – Al Baqarah : 283)

19. Jangan campur adukan kebenaran dengan kebohongan (QS 2 – Al Baqarah : 42)

20. Berlakulah adil terhadap semua orang (QS 4 – An Nisaa’ : 58)

21. Tegakkanlah keadilan dengan tegas (QS 4 – An Nisaa’ : 135)

22. Harta yang meninggal harus dibagikan kepada anggota keluarga (QS 4 – An Nisaa’ : 7)

23. Wanita memiliki hak waris (QS 4 – An Nisaa’ : 7)

24. Jangan memakan harta para anak yatim (QS 4 – An Nisaa’ : 10)

25. Lindungi anak yatim (QS 2 – Al Baqarah : 220)

26. Jangan memboroskan harta dengan semena-mena (QS 4 – An Nisaa’ : 29)

27. Damaikanlah orang yang berselisih (QS 49 – Al Hujuraat : 9)

28. Hindari prasangka buruk (QS 49 – Al Hujuraat : 12)

29. Jangan memata-matai atau memfitnah orang (QS 2 – Al Baqarah : 283)

30. Jangan memata-matai atau memfitnah orang (QS 49 – Al Hujuraat : 12)

31. Gunakan harta untuk kegiatan sosial (QS 57 – Al Hadid : 7)

32. Biasakan memberi makan orang miskin (QS 107 – Al Maa’uun : 3)

33. Bantulah orang fakir yang berada di jalan Allah (QS 2 – Al Baqarah : 273)

34. Jangan menghabiskan uang untuk bermegah-megah (QS 17 – Al Israa’ : 29)

35. Jangan menyebut-nyebut tentang sedekahmu (QS 2 – Al Baqarah : 264)

36. Hormatilah tamu anda (QS 51 – Adz Dzaariyaat : 26)

37. Perintahkan kebajikan setelah kita melakukannya sendiri (QS 2 – Al Baqarah : 44)

38. Jangan berbuat kerusakan di muka bumi (QS 2 – Al Baqarah : 60)

39. Jangan menghalangi orang datang ke masjid (QS 2 – Al Baqarah : 114)

40. Perangilah mereka yang memerangi mu (QS 2 – Al Baqarah : 190)

41. Jagalah etika perang (QS 2 – Al Baqarah : 191)

42. Jangan lari dari peperangan (QS 8 – Al Anfaal : 15)

43. Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam) (QS 2 – Al Baqarah : 256)

44. Berimanlah kepada para Nabi (QS 2 – Al Baqarah : 285)

45. Jangan melakukan hubungan badan saat haid (QS 2 – Al Baqarah : 222)

46. Susuilah anak-anakmu selama dua tahun penuh (QS 2 – Al Baqarah : 233)

47. Jauhilah hubungan badan diluar nikah (QS 17 – Al Israa’ : 32)

48. Choose rulers by their merit Pilihlah pemimpin berdasarkan ilmu dan jasanya (QS 2 – Al Baqarah : 247)

49. Jangan membebani orang di luar kesanggupannya (QS 2 – Al Baqarah : 286)

50. Jangan mau dipecah belah (QS 3 – Ali Imran : 103)

51. Renungkanlah keajaiban dan penciptaan alam semesta ini (QS 3 – Ali Imran 3 :191)

52. Lelaki maupun wanita mendapat imbalan yang sama sesuai perbuatannya (QS 3 – Ali Imran : 195)

53. Jangan menikahi mereka yang sedarah denganmu (QS 4 – An Nisaa’ : 23)

54. Keluarga harus di-imami oleh seorang laki-laki (QS 4 – An Nisaa’ : 34)

55. Jangan pelit (QS 4 – An Nisaa’ : 37)

56. Jangan iri hati (QS 4 – An Nisaa’ : 54)

57. Jangan saling membunuh (QS 4 – An Nisaa’ : 92)

58. Jangan membela ketidak jujuran atau kebohongan (QS 4 – An Nisaa’ : 105)

59. Jangan bekerja-sama dalam dosa dan kekerasan (QS 5 – Al Maa-idah : 2)

60. Bekerja samalah dalam kebenaran (QS 5 – Al Maa-idah : 2)

61. Mayoritas bukanlah merupakan kriteria kebenaran (QS 6 – Al An’aam : 116)

62. Berlaku adil (QS 5 – Al Maa-idah:8)

63. Berikan hukuman untuk setiap kejahatan (QS 5 – Al Maa-idah : 38)

64. Berjuanglah melawan perbuatan dosa dan melanggar hukum (QS 5 – Al Maa-idah : 63)

65. Dilarang memakan binatang mati, darah dan daging babi (QS 5 – Al Maa-idah : 3)

66. Hindari minum racun dan alkohol (QS 5 – Al Maa-idah : 90)

67. Jangan berjudi (QS 5 – Al Maa-idah : 90)

68. Jangan menghina keyakinan atau agama orang lain (QS 6 – Al An’aam : 108)

69. Jangan mengurangi timbangan untuk menipu (QS 6 – Al An’aam : 152)

70. Makan dan minumlah secukupnya (QS 7 – Al A’raaf : 31)

71. Kenakanlah pakaian yang bagus saat shalat (QS 7 – Al A’raaf : 31)

72. Lindungi dan bantulah mereka yang meminta perlindungan (QS 9 – At Taubah:6)

73. Jagalah kemurnian (QS 9 – At Taubah : 108)

74. Jangan pernah putus asa akan pertolongan Allah (QS 12 – Yusuf : 87)

75. Allah mengampuni orang yang berbuat dosa karena ketidak-tahuan (QS 16 – An Nahl : 119)

76. Berseru kepada jalan Allah dengan cara yang baik dan bijaksana (QS 16 – An Nahl : 125)

77. Tidak ada seorangpun yang menanggung dosa orang lain (QS 17 – Al Israa’ : 15)

78. Jangan membunuh anak-anakmu karena takut akan kemiskinan (QS 17 – Al Israa’ : 31)

79. Jangan mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki pengtahuan tentangnya (QS 17 – Al Israa’ : 36)

80. Jauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat (QS 23 – Al Mu’minuun : 3)

81. Jangan memasuki rumah orang lain tanpa ijin pemilik rumah (QS 24 – An Nuur : 27)

82. Allah menjamin imbalan kebaikan hanya kepada mereka yang percaya kepada Allah (QS 24 – An Nuur : 55)

83. Berjalanlah di muka bumi dengan rendah hati (QS 25 – Al Furqaan : 63)

84. Jangan melupakan kenikmatan dunia yang telah Allah berikan (QS 28 – Al Qashash : 77)

85. Jangan menyembah Tuhan selain Allah (QS 28 – Al Qashash:88)

86. Jangan terlibat dalam homosexualitas (QS 29 – Al ‘Ankabuut : 29)

87. Berbuat baik dan cegahlah perbuatan munkar (QS 31 – Luqman : 17)

88. Janganlah berjalan di muka bumi dengan sombong (QS 31 – Luqman : 18)

89. Wanita dilarang memamerkan diri (QS 33 – Al Ahzab : 33)

90. Allah mengampuni semua dosa-dosa kita (QS 39 – Az Zumar : 53)

91. Jangan berputus asa akan ampunan Allah (QS 39 – Az Zumar : 53)

92. Balaslah kejahatan dengan kebaikan (QS 41 – Fushshilat : 34)

93. Selesaikan pesoalan dengan bermusyawarah (QS 42 – Asy Syuura : 38)

94. Orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang bertaqwa (QS 49 – Al Hujuraat : 13)

95. Tidak ada dikenal biara dalam agama (Islam) (QS 57 – Al Hadid : 27)

96. Allah akan meninggikan derajat mereka yang berilmu (QS 58 – Al Mujaadilah : 11)

97. Perlakukan non-Muslim dengan baik dan adil (QS 60 – Al Mumtahanah : 8)

98. Hindari diri dari kekikiran (QS 64 – At Taghaabun : 16)

99. Mohon ampunan kepada Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 73 – Al Muzzammil : 20)

100. Jangan menghardik orang yang meminta-minta (QS 93 – Adh Dhuhaa : 10)

Shadaqallahul adzim, Maha Benar Allah dengan segala FirmanNya

Sumber : http://www.instagram.com/tentangislam

Pakai Beskap n’Dalang

Masih semangat dengan permainannya, kali ini aksinya lebih mantap lagi, selain pakaian dalangnya super komplit minus keris.

Gaya pukulan dan bahasanya sudah nyambung baik intonasi suara juga saling tersambung bahasa nya antara tokoh satu dengan tokoh lainnya.

Saksikan di dalam video berikut

Latihan ndalang

Sebuah pertanyaan yang cukup mengejutkan, manakala sore ini anakku mas igo minta di belikan wayang kulit. Ya permintaan ini setelah beberapa minggu lalu ada temannya yang membawa wayang kulit asli saat bermain bersama. Akhirnya saya katakan besok lebaran saat di Jogja ayah beliin ya nak. 
Namun untuk menutupi rasa penasarannya, saya carikan salah salah satu pertujukan wayang oleh dalang cilik. Dan ternyata diluar dugaan ku, ternyata mas igo begitu tertarik dengan penampilan wayang itu walau tak mengerti artinya karena menggunakan bahasa jawa.memang dia sangatbsuka menyaksikan pertujukan atau film via youtube yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan kereta api. Tapi ternyata mas igo sangat tertarik dan fokus melihat pertunjukan wayang melalui yutube ini. 

Teruslah belajar ya nak, in sya allah ini bukan bid’ah. Tapi ini nguri nguri kabudayan leluhur jawi ya nak. 

Kretaif dan inovatif n’Dalang

Ide tu muncul begitu saja…. 

Tempat mendirikan wayang.. biasanya pakai batang pohon pisang atau gedebog… ini pakai kursj sofa yang nempel di dinding.

Untuk memunculkan efek lebih, mas igo menggunakan power bank yang ada lampunya, sehingga tampak makin hidup.

Saksikan dalam video ini gaya dan ide ya yang keren 

Permainan efek cahaya dengan lampu power bank…

Pengen N’dalang

Anak kami yang ketiga, Mas Igo memang luar biasa sangat suka dengan budaya ntah itu barongsay, ondel ondel juga wayang. Saya sendiri tidak tau persis dari mana asal mula tertariknya. 

Sebelum ke jogja, mas igo sering menonton video wayang lewat internet. Melihat ke asikan dan keseriusannya akhirnya pernah kami berjanji nanti suatu saat kalau ke Jogja kita beli wayang. Nah ternyata keingunan itu di oerkuat teman sebayanya ya g satu komplek, falih namnya punya wayang kulit, maka mantaplah keingina  mas igo untuk punya wayang sendiri. 

Saat lebaran tahun ininkamu mudik ke kampung halaman termasuk jogja tempat istriku, saat sampai dan ketemu pak de, langsung mas igo minta belikan wayang tanpa minta tunda. Kebetulan di ru ah kakak kami menyewakan pakaian adat. Klop lah semuanya.

Berikut liputannya dalam foto 

Pakaian beskap lengkap begitu landing di jogja
Berpose dengan akung aldid
Salah satu asesoris dalang adalah keris.. ini siap dipasang
Instrumen wayang di iringi gamelan, salah satunya adalah bonang.. berlatih di candi ratu boko
Tiga generasi foto bersama menggunakan blangkon

Siaga Lebaran #PMISiapBantu

Seperti halnya tahun tahun sebelumnya PMI selalu setiap tahun melaksanakan Siaga Lebaran.. 

Buat rekan rekan PMI berikut media kampanye untuk dinpergunakan dalam pelayanan siaga lebaran tahun ini ya 

Ngaji “Barlen”


Alahamdulillah, pijinsyukur atas nikmat untuk busa belajar menambah ilmu dalam forum kajian ba’da Subuh di hari kedelapan bulan ramadhan tahun 2017. Pagi ini Masjid Nurul Jannah, kedatangan ustad dannguru ngaji yang sebenarnyan jadwal warga untuk memberikan kultum subuh. Kesan pribadi saya suka dengan guru ngaji yang model begini karena di bawakan dengan contoh real dan di suguhkan dengan gaya khas “guyon”.

Adapun sari sari penting ngaji ku pagi ini adalah 

Hal hal yang menyebabkan sesorang berdosa:

  1. Godaan setan : seseorang yang berdoasa karena memang disebabkan oleh godaan setan, seperti saat buoan puasa seperti sekarang ini ada orang yang menawarkan untuk mebatalkan puasa, atau bahkan tidak usah berpuasa toh gak kelihatan orang lain.
  2. Hati yang kotor : hati yang kotor akan menjadikan seseorang tertutup untik berbuat baik, jadi selalu saja melakukan tindakan yang tidak baik atau maksiat kepada Allah swt.
  3. Kebiasaan : salah satu kegiatan yang menjadikan dosa pada diri kita adalah kebiasaan, kadang kita tidak merasa bahwa apa yang kita lakukan itu adalah dosa.

Jadi kita sebagai manusia, khususnya manusia yang beriman mendapatkan panggilan untuk berpuasa, dan atas puasanya secara ihklas dan hanya mengharap ridha dari allah maka balasannya pahala yang belimpah. Karena manusia tempatnya salah dan dosa, allah juga di bulan ramadhan ini memberikan fasilitas bagi mereka yang menjalankan puasa dsn memohon ampunannya akan di kabulkan semua permohonan nya dan dijadikan ke fitrahnya.

Orang yang bertakwa di ibaratkan seperti sebuah pohon yang berbuah kebaikan sepanjang masa tak kenal musim, buah secara terminologi alquran terbagi menjadi dua jenis. Yaitu pohon yang berbuah musiman dan pohon yang berbuah tak kenal musim atau sepanjang waktu. 

  1. Tempat : sebagai bukti ketaqwaan kepada allah dengan beribadah yang berdasarkanntempat, seperti ibadah haji, shalat dan berdoa dintempat tempat tertentu di makah dan madinah.
  2. Waktu : ketaqwaan seseorang akan meningkat dalam bentuk pelaksaaan ibadah yang berdasarkan waktu waktu tertentu, sebagai contoh berdoa pada saat sebelum imsyak dan saat berbuka. 
  3. Kondisi : seseorang rajin beribadah, bukan karena ketaqwaan kepada allah, tapi karena kondisi, manusia biasanya melakukan rajin beribadah karena kondisi, sebagai contoh seorang menantu rajin ke masjid karena mertuanya datang kerumah kita. 
  4. Kepentingan : seseorang rajin beribadah karena faktor kepentingan, bukan karena semata karena Allah, sebagai contoh ada beberapa orang rajin ke mesjid dan berbuat baik karena punya kepentingan mau mencalonkan sebagai lurah, atau pejabat.  

Manusia dalam al quran di kenal dengan 4 sebutan, yaitu :

  1. Bashar  : makna ini ditujukan manusia dengan tanda dan fungsi secara fisik, seperti warna kulit, badan dintumbuhi rambut, hal ini di ceritakan bahwa para nabi adalah dari manusia biasa, sama seperti lainnya, yaitu di lihat daei penampilan fisiknya, makanya banyak orang semasa itu menolak karena mereka mengangap nabi adalah manusia biasa yang sama dengan dirinya. Tidak melihat apa makna dan nilai yang di sampaikan tentang kebenaran. 
  2. Insan : makna ini lebih ditujukan manusia dari sisi jiwa, hati, psikologisnya
  3. Anas : makna anas adalah manusia dari sisi kehidupan sosial, 
  4. Bani Adam : makna manusia sebagai pengingat keturunan nabi adam yang berasal dari tanah. Jadi manusia berkecenderungan untuk mendekatinunsur tanah, sehingga sulit untuk bertindak “langitan” beribadah kepada allah swt.

Kajian subuh ramadan di hari ke 8 Ramadhan 2017. Sebuah catatan pribadi, mohon maaf kalau ada yang membaca kurang berkenan semata untuk pengingat diri, seperti pesan sang guru ngaji agar makna dsn situasi indshnya mengaji tidak menguap begitu saja… barlenbubar kelalen.

Manokwari visit

Untuk kesekian kalinya, mengunjungi salah satu kota di ujung matahari terbit dalam rangka kesibukan liburan nasional kenaikan isa almasih, 25 Mei 2017. Kami harus memyempatkan diri melakukan langkah persiapan dengan pihak lokal untuk hajatan akbar di September 2018 nanti.

Ketua Bidang PMR & Sukarelawan menyampaikan pemaparan kegiatan TKSN VI 2018
Lokasi pertemuan dan penginapan kami
Patung asmat, di salah satu toko roti gulung ( photo by: Septa)
Sambil nunggu pesawat untuk kembali ke Jakarta, mampir ke lounge

Fitnah dosa jariah

Di posting dari blasting wa group… ijin share untuk sang penulis

Dosa Jariah
BAHAYA FITNAH
“Kyai, maafkanlah saya yang telah memfitnah pak kyai dan ajarkan saya sesuatu yang bisa menghapuskan kesalahan saya ini.” Aku berusaha menjaga lisanku, tak ingin sedikitpun menyebarkan kebohongan dan menyinggung perasaan kyai.
Kyai Husain terkekeh. “Apa kau serius?” Katanya.
Aku menganggukkan kepalaku dengan penuh keyakinan. “Saya serius, Kyai. Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.”
Kyai Husain terdiam beberapa saat. Ia tampak berfikir. Aku sudah membayangkan sebuah doa yang akan diajarkan Kyai Husain kepadaku, yang jika aku membacanya beberapa kali maka Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Aku juga membayangkan sebuah laku, atau tirakat, atau apa saja yang bisa menebus kesalahan dan menghapuskan dosa-dosaku. Beberapa jenak kemudian, Kyai Husain mengucapkan sesuatu yang benar-benar di luar perkiraanku. Di luar perkiraanku—
“Apakah kau punya sebuah kemoceng di rumahmu?” Aku benar-benar heran Kyai Husain justru menanyakan sesuatu yang tidak relevan untuk permintaanku tadi.
“Maaf, Kyai?” Aku berusaha memperjelas maksud kyai Husain.
Kyai Husain tertawa, seperti kyai Husain yang biasanya. Diujung tawanya, ia sedikit terbatuk. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menghampiriku, “Ya, temukanlah sebuah kemoceng di rumahmu,” katanya.
Tampaknya Kyai Husain benar-benar serius dengan permintaannya. “Ya, saya punya sebuah kemoceng di rumah, Kiai. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”
Kyai Husain tersenyum.
“Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku,” katanya, “Berjalanlah sambil mencabuti bulu-bulu dari kemoceng itu. Setiap kali kau mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kau lalui.”
Aku hanya bisa mengangguk. Aku tak akan membantahnya. Barangkali maksud kyai Husain adalah agar aku merenungkan kesalahan-kesalahanku. Dan dengan menjatuhkan bulu-bulunya satu per satu, maka kesalahan-kesalahan itu akan gugur diterbangkan waktu…
“Kau akan belajar sesuatu darinya,” kata kyai Husain. Ada senyum yang sedikit terkembang di wajahku.
***
Keesokan harinya, aku menemui Kyai Husain dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulupun pada gagangnya. Aku segera menyerahkan gagang kemoceng itu pada beliau.
“Ini, Kyai, bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari 5 km dari rumah saya ke pondok ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang Kiai. Saya menghitung betapa luasnya fitnah-fitnah saya tentang Kiai yang sudah saya sebarkan kepada begitu banyak orang. Maafkan saya, kyai. Maafkan saya…”
Kyai Husain mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ada kehangatan yang aku rasakan dari raut mukanya. “Seperti aku katakana kemarin, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kau hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar sesuatu…,” katanya.
Aku hanya terdiam mendengar perkataan Kyai Husain yang lembut, menyejukkan hatiku.
“Kini pulanglah…” kata Kyai Husain.
Aku baru saja akan segera beranjak untuk pamit dan mencium tangannya, tetapi Kiai Husain melanjutkan kalimatnya, “Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kau menuju pondokku tadi…”

Aku terkejut mendengarkan permintaan kyai Husain kali ini, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya: “Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kaucabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kau kumpulkan.”
Aku terdiam. Aku tak mungkin menolak permintaan Kyai Husain.
“Kau akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” tutup Kyai Husain.
***
Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi kulepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di sebuah kendaraan yang sedang menuju kota yang jauh, atau tersapu ke mana saja ke tempat yang kini tak mungkin aku ketahui.
Tapi aku harus menemukan mereka! Aku harus terus mencari ke setiap sudut jalanan, ke gang-gang sempit, ke mana saja!
Aku terus berjalan.
Setelah berjam-jam, aku berdiri di depan rumahku dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasku berat. Tenggorokanku kering. Di tanganku, kugenggam lima helai bulu kemoceng yang berhasil kutemukan di sepanjang perjalanan.
Hari sudah menjelang petang. Dari ratusan yang kucabuti dan kujatuhkan dalam perjalanan pergi, hanya lima helai yang berhasil kutemukan dan kupungut lagi di perjalanan pulang. Ya, hanya lima helai. Lima helai.
***
Hari berikutnya aku menemui Kyai Husain dengan wajah yang murung. Aku menyerahkan lima helai bulu kemoceng itu pada Kyai Husain. “Ini, Kyai, hanya ini yang berhasil saya temukan.” Aku membuka genggaman tanganku dan menyodorkannya pada Kyai Husain.
Kyai Husain terkekeh. “Kini kau telah belajar sesuatu,”katanya.
Aku mengernyitkan dahiku. “Apa yang telah aku pelajari, Kyai?” Aku benar-benar tak mengerti.
“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab kyai Husain.
Tiba-tiba aku tersentak. Dadaku berdebar. Kepalaku mulai berkeringat.
“Bulu-bulu yang kaucabuti dan kaujatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kausebarkan. Meskipun kau benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yang beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kau duga-duga, ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kau hitung!”
Tiba-tiba aku menggigil mendengarkan kata-kata Kiai Husain. Seolah-olah ada tabrakan pesawat yang paling dahsyat di dalam kepalaku. Seolah-olah ada hujan mata pisau yang menghujam jantungku. Aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku ingin mencabut lidahku sendiri.
“Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri… Barangkali kau akan berusaha meluruskannya, karena kau benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kau tak tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kau tak bisa menghentikan semua itu! Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kau bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kau kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya.”

“Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Agama menyebutnya sebagai dosa jariyah. Dosa yang terus berjalan diluar kendali pelaku pertamanya. Maka tentang fitnah-fitnah itu, meskipun aku atau siapapun saja yang kau fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. Maka kau tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”
Tangisku benar-benar pecah. Aku tersungkur di lantai.

“Astagfirulloh hal-adzhim… Astagfirullohal-adzhim… 

Astagfirulloh hal-adzhim…” 

Aku hanya bisa terus mengulangi istighfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari kedua ujung mataku.
“Ajari saya apa saja untuk membunuh fitnah-fitnah itu, Kyai. Ajari saya! Ajari saya! Astagfirulloohal-adzhim…” Aku terus menangis menyesali apa yang telah aku perbuat.
Kyai Husain tertunduk. Beliau tampak meneteskan air matanya.“ Aku telah memaafkanmu setulus hatiku, Nak,” katanya, “Kini, aku hanya bisa mendoakanmu agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya bahwa Allah, dengan kasih sayangnya, adalah zat yang maha terus menerus menerima taubat manusia… Innallooha tawwaabur-rahiim…”
Aku disambar halilintar jutaan megawatt yang mengguncangkan batinku! Aku ingin mengucapkan sejuta atau semiliar istighfar untuk semua yang sudah kulakukan! Aku ingin membacakan doa-doa apa saja untuk menghentikan fitnah-fitnah itu!
“Kini kau telah belajar sesuatu,” kata Kyai Husain, setengah berbisik. Pipinya masih basah oleh air mata, “Fitnah-fitnah itu bukan hanya tentang dirimu dan seseorang yang kau sakiti. Ia lebih luas lagi. 
#selfreminder

Blog at WordPress.com.

Up ↑