RSS

Arsip Kategori: HIV

Perbedaan Peer Edukation, Peer Informasi dan Peer Konseling

Berikut perbedaan mendasar antara Peer Edukasion, Peer Informasi dan Peer Konseling :

Semoga dengan matrik berikut dapat memberikan gambaran yang jelas tentang program PE :

di sadur dari :

Webb, D. and Elliott, L. Learning to Live, monitoring and evaluating HIV/AIDS programmes for young people. London: Save the Children, 2000, p.79.

Beda PE dan PI

 
2 Comments

Posted by pada 1 Juni, 2009 in HIV

 

Kaitkata: , , , , , ,

Awas, ‘Sexting’ Menjamur di Kalangan Pelajar

Santi Dwi Jayanti – detikinet Kamis, 15/01/2009 12:55 WIB

Pennsylvania – Remaja dan ponsel sudah semakin tak bisa dipisahkan. Namun orangtua perlu khawatir dengan aksi ‘sexting’ yang kian menjamur di kalangan siswa-siswi sekolah.

Istilah ‘sexting’ merupakan bentukan dari kata ‘sex’ (seks) dan ‘texting’ (pesan singkat alias SMS). ‘Sexting’ mengacu pada saling kirim gambar porno diri sendiri ke lawan jenis entah dengan tujuan menggoda atau membangun keintiman.

Dikutip detikINET dari FoxNews, Kamis (15/1/2009), aksi ‘sexting’ sedang menjamur di Amerika Serikat. Pelakunya, yang kebanyakan adalah remaja usia tanggung, tidak menyadari bahwa aksi mereka tersebut bisa berakhir dengan penyebaran foto di internet atau malah jatuh ke tangan paedofil.

Salah satu kasus ‘sexting’ di Pennsylvania menyeret enam orang remaja ke pengadilan. Enam remaja tersebut terdiri dari 3 gadis berusia 14-15 tahun dan 3 remaja laki-laki sekitar 16-17 tahun.

Pihak Kepolisian akan mengajukan agar tiga remaja putri itu dikenai pasal pembuatan, penyebaran dan kepemilikan pornografi anak. Sedangkan ketiga remaja putra itu akan dikenai pasal kepemilikian pornografi anak.
( wsh / wsh )

Bagiman dengan SEXTING di Indonesia? Bagaimana Peram kita dalam mengendalikan SEXTING di kalangan remaja kita ? Ada komentar ?

 
Leave a comment

Posted by pada 20 Januari, 2009 in HIV, Kesehatan Reproduksi

 

Kaitkata: , ,

Sunat Mengurangi Resiko Penularan HIV

Sunat mengurangi risiko infeksi HIV 50% pada laki-laki Afrika-Amerika melakukan kontak seksual perempuan HIV positif, menurut penelitian US diterbitkan dalam edisi 1 Januari 2009 di Journal of Infectious Diseases. Pengurangan resiko HIV untuk laki-laki yang disunat mirip dengan yang dilihat dalam tiga randomisasi, ujicoba kelompok kontrol melihat manfaat dari sunat sebagai metode pencegahan HIV di Afrika.

Penyunatan laki-laki telah menjadi fokus perhatian yang cukup besar sebagai metode pencegahan HIV di tahun-tahun terakhir. Telah menunjukkan bahwa sel dalam kulup yang rentan terhadap infeksi HIV dan sunat mengurangi risiko infeksi HIV untuk pria di sub-Sahara Afrika.

Ada sedikit informasi mengenai manfaat dari sunat untuk laki-laki heteroseks sebagai metode pencegahan HIV di AS. Hal ini karena AS memiliki prevalensi HIV yang rendah (0,4%) dan juga karena epidemi terkonsentrasi di gay dan laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, mempunyai efek perlindungan dari sunat kurang jelas.

Dalam rangka untuk mengevaluasi hubungan antara status sunat dan risiko infeksi HIV di populasi Afrika-Amerika orang mengunjungi klinik kesehatan seksual di Baltimore, penyidik melakukan studi retrospektif 40571 pengunjung klinik antara 1993 dan 2000. Semua pasien yang diuji untuk HIV dan klinik catatan direkam jika orang-orang yang disunat atau tidak disunat, dan jika mereka memiliki ulcerative atau infeksi seksual saluran kencing.

Para peneliti juga mampu mengidentifikasi kelompok dari 394 kunjungan yang dilakukan karena orang-orang yang telah diberitahu bahwa mereka sudah terkena HIV setelah penile-vaginal kontak dengan perempuan yang didiagnosis infeksi HIV. Ini memungkinkan peneliti untuk melihat manfaat dari sunat sebagai metode pencegahan HIV pada laki-laki yang diketahui telah terpapar HIV.

Sebagian besar manusia (87%) adalah disunat. Prevalensi HIV adalah empat kali lebih tinggi pada kelompok dari 394 kunjungan klinik dilakukan karena didokumentasikan terkena HIV daripada di 40177 kunjungan oleh orang-orang tertentu yang tidak terkena HIV (12% vs 3%).

Di antara 394 orang yang hadir klinik diketahui terkena HIV, adalah sunat yang signifikan yang terkait dengan 51% penurunan prevalensi HIV (10% vs 22%).

Namun, di antara 40.177 kunjungan oleh orang tanpa didokumentasikan terkena HIV, tidak ada perbedaan antara prevalensi HIV circumcised uncircumcised dan laki-laki (keduanya 3%). Di grup ini, namun demikian, prevalensi HIV yang tinggi di antara orang-orang yang memiliki ulcerative seksual infeksi (7%) dibandingkan dengan orang-orang yang urethral infeksi (2%).

“Sekitar 50% penurunan prevalensi diamati antara laki-laki yang dikenal dengan terpapar HIV adalah sebanding dengan besarnya resiko dilaporkan di seluruh Afrika tiga kelompok uji (jangkauan, 48% sampai 60%),” komentar yang peneliti.

Mereka menyimpulkan, “penyunatan itu terkait dengan signifikan mengurangi prevalensi HIV di antara kelompok dari Afrika-Amerika heteroseks pria dikenal dengan HIV eksposur yang menghadiri Baltimore seksual [kesehatan] klinik … temuan ini mungkin juga menunjukkan bahwa keuntungan dari sunat mungkin paling nyata dalam pengamatan studi dari pasien laki-laki dengan populasi didokumentasikan terkena HIV terinfeksi perempuan mitra. “

Penulis yang mendampingi editorial diketahui bahwa, walaupun American Academy of Pediatricians mengakui “potensi medis manfaat sunat laki-laki baru lahir”, ia yakin bahwa “data tidak mencukupi untuk merekomendasikan sunat rutin neonatal.” Para penulis menulis bahwa sunat harga jatuh di Amerika Serikat dan yang rendah di kalangan Afrika-Amerika dan Hispanics, grup dengan peningkatan prevalensi HIV. Mereka menyatakan harapan bahwa temuan-temuan akan meyakinkan American Academy of Pediatricians “untuk kesehatan masyarakat mengenali pentingnya operasi ini untuk mencegah infeksi HIV di populasi minoritas AS.”

Referensi

Warner, L et al. Male circumcision and risk of HIV infection among heterosexual African American men attending Baltimore sexually transmitted disease clinics. J Infect Dis 199: 59-65, 2009.

Gray, RH et al. The role of male circumcision in the prevention of human papillomavirus and HIV infection. J Infect Dis 199: 1-3, 2009.

Sumber : http://www.aidsmap.com/en/news/A7C1DC5A-D119-4395-89B1-5FF09E49F0B9.asp

 
Leave a comment

Posted by pada 8 Januari, 2009 in HIV

 

Kaitkata:

Kutipan HAS 2008

Selamat Pagi….

Hari Ini tepat tanggal 1 Desember 2008, Hari di mana seluruh komponen dunia memperingatai hari AIDS sedunia / World AIDS Day.

Kita sebagai bagian dari komponen dunia, ingin mengingatkan kembali dan mengajak temen temen semua untuk sedikit mereview terhadap isue HIV :

  1. Pastikan anda mempunyai pengetahuan, Ketrampilan dan Sikap tentang HIV dan AIDS yang bener –> kalau masih kurang bisa tanya ke temen temen PMI di daerah anda yang lebih tahu.
  2. Kalau Anda sudah paham informasi HIV ( minimal Cara Penularan dan cara Mencegahnya)  — di moment HAS ini mohon untuk kembali … bagilah ilmu yang anda miliki kepada orang – orang yang anda cintai ( Orang Tua, Istri/Suami, Anak, Adik dan Kakak atau siapa saja.) temen kerja kita , dengan cara yang ada kuasai dan senyaman mungkin.
  3. Lakukan penyampaian informasi kepada masyarakat dilingkungan Anda….
  4. Berikan kasih sayang anda dengan memberikan perhatian / sikap yang sama kepada mereka Odha ( Orang dengan HIV & AIDS) karena yang membedakan kita dengan Odha hanyalah didalam tubuhnya Odha telah ada HIVnya

Tahukan Saudaraku, kalau IFRC telah mempunyai alokasi dana ( ” MASABO FUND “yang di peruntukan bagi “RELAWAN Palang Merah seluruh Dunia” termasuk RELAWAN PMI” yang telah menjadi Odha … namun sampai sekarang belum satu pun dari RELWAN PMI yang Odha meng “akses” nya ? inikah indikasi bahwa relawan kita tidak ada yang Odha ? “semoga memang demikian harapan kita ” atau Sistem Kita yang belum mendukung untuk ini ?

Mari kita perjuangkan terwujudnya Kebijkan HIV di Tempat Kerja / Work Place Policy sebagai perlidungan kepada kita semua,. apa bila saudara kita ( RELAWAN PMI )  telah menjadi Odha… bagaimana mensikapinya, memberikan hak nya, menjamin tidak dikeluarkan dari lingkungan PMI., tetap di akui sebagai relawan PMI. Pengurus Pusat PMI berusaha dalam 2 Bulan kedepan Draft Policy yang telah mendapat masukan dari seluruh PMI di Indonesia akan segera di Setujui… mohon dukungan dan doa nya.

Demikian ajakan dan review buat diri saya dan juga temen temen semua, selamat memperingati HARI AIDS Sedunia dengan tema ” Yang Muda Pelopor Anti Stigma dan Diskriminasi terhadap Odha” bisa di wujudkan dengan upaya -upaya kecil dari diri kita sebagai bagian dari kaum pemuda PMI.

Salam, Exkuwin
www.exkuwin.co.cc

 
Leave a comment

Posted by pada 1 Desember, 2008 in Gado - Gado, HIV, Introspeksi Diri, PMI

 

Kaitkata:

World AIDS Day: HIV still with us, not defeated yet

World AIDS Day: HIV still with us, not defeated yet
28 November 2008

HIV is still a major threat to public health throughout the world despite progress made over the years in some countries, warns the International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) on the occasion of World AIDS Day 2008.

“If there is something more deadly than HIV, it is complacency about HIV,” says Dr Mukesh Kapila, the IFRC’s Special Representative for HIV.

“Even if infection rates are stabilizing in parts of sub-Saharan Africa, HIV is still growing elsewhere with many people unaware of the dangers, especially in Eastern Europe and in parts of Asia. Our cost effective approach – which bypasses bureaucratic institutional structures to reach the community level directly – very much focuses on supporting the most vulnerable groups including women and children orphaned by AIDS,” he adds.

The IFRC is taking action to support people living with HIV affected by food insecurity, disasters and  health crises, as they are usually the hardest hit because of the disruptions they experience.

“In South Africa, Red Cross volunteers involved in our home-based care programmes are doing wonderful work within communities, bringing essential support to people living with HIV on antiretroviral treatment (ART)  and their families, especially those affected by food shortages and dealing with the double blow of tuberculosis” explains Françoise Le Goff, head of IFRC’s southern Africa zone.

“Volunteers provide basic food assistance – taking some porridge to their clients or urging them to maintain a healthy diet. Even in South Africa, many people go without food on a regular basis, and this can be catastrophic for someone taking ART.”

South Africa is one of many examples of how the Red Cross Red Crescent is scaling up in HIV-related activities in Africa and throughout the world, partnering with other organizations including UNAIDS.

“The IFRC is on track to keep its commitment to double the amount of HIV activities. It is clear from results over the past two years that we are keeping the promise,” says Bernard Gardiner, head of the IFRC’s HIV Global Programme in Geneva. “Between January 2005 and June 2008, Red Cross Red Crescent societies in Africa reached 32 million beneficiaries thanks to 67,000 volunteers providing 38 million hours of their time and skills,” he adds.

The IFRC is also strengthening its HIV programmes in other parts of the world, especially in Eastern Europe, Asia and the Americas, where a lot still needs to be done to have vulnerable groups made aware of the threat of HIV. “The persistence of stigma and discrimination against people living with HIV is unacceptable to any community rising to the challenge of HIV,” concludes Gardiner.

Sumber : http://www.ifrc.org/Docs/News/pr08/7308.asp

 
Leave a comment

Posted by pada 29 November, 2008 in HIV, PMI

 

Kaitkata:

Penemu HIV mendapatkan Nobel ” Luc Montagnier “

Dalam banyak tulisan bahwa penemu virus HIV ( human immunodeficiency virus ) virus penyebab AIDS ( acquired immune deficiency syndrome) di sebutkan adalah dua orang yaitu : Luc Montagnier dan Robert Gallo kedua nya dari Prancis. namun setelah beberapa tahun terakhir akhirnya panelis hadiah Nobel telah menganugerahkan kepada Luc Montagnier adalah sebagai penemu HIV yang telah di publikasikan dalam website hadiah nobel.

Maka kini jelas sudah siapakah yang di tetap kan oleh dunia penemu HIV adalah Bapak Luc Montagnier . namun bukan berarti apa yang telah di lakukan oleh Pak Robert Gallo tidak berarti, wal.aun dalam beberap cataan apa yang di kemukakan oleh Pak Gallo dianggap melakukan kesalahn, Gallo sendiri malah divonis Badan Integritas Riset (ORI) yang dibentuk Depkes  AS melakukan manipulasi ilmiah (scientific misconduct).

Namun, dalam pengadilan banding 12 November 1993, Gallo dinyatakan tidak bersalah oleh Panel Banding Integritas Riset (RIAP). Tak urung reputasi keilmuwanan Gallo sudah telanjur hancur. Yang jelas, sejak awal praduga Gallo tentang HIV itu serumpun dengan HTLV I dan II yang menyebabkan limfosit berkembang liar menjadi leukemia sudah salah karena Montagnier dan timnya justru mengamati bahwa LAV atau HIV justru membunuh sel-sel limfosit yang diinfeksinya.

Namun kesuksesan Pak Luc adalah betapapun Gallo tetap berjasa, meletakkan anak tangga temuan teknik isolasi dan perbanyakan retrovirus sehingga Montagnier dan timnya dapat menapak anak tangga kemajuan ilmu berikutnya.

sumber : nobel dan kompas

 
3 Comments

Posted by pada 8 Oktober, 2008 in HIV

 

Kaitkata:

Kurang Perhitungan di Lorong Pepaya ” Kota Bitung “

Dalah kesempatan mengunjungi kota Bitung, Sulawesi Utara dalam acara penilaian awal program HIV yang akan di bantu oleh negara sahabat, Palang Merah Belanda. ada hal yang menarik dan perlu di bagi dengan temen temen semua.

Kejadian ini setelah seharian kita banyak berbagi informasi antara tim penilai dengan tuan rumah, akhirnya di sepakati untuk melakukan observasi tempat tempat yang di nilai paling rawan terhadap penularan HIV di Kota Bitung ini… salah satu tempatnya adalah ” lorong pepaya ” .. saya tidak paham mengapa tempat / jalan ini di kenal dengan sebutan lorong pepaya. ternyata lorong ini adalah tempat mangkalnya para pekerja sek yang hadir di kota pinggir pelabuhan ini entah karena apa alasan utamnya, tetapi dari ceritanya banyak sich mereka yang notabene sebagi “pelaut” mampir untuk sekedar melapas kebutuhan biologis sesaatnya.

kejadian ini kami lakukan kurang lebih jam 22.00 lebih .. dalam observasi kami ke lorong pepaya ternyata kami salah perhitungan… hal ini karena disemangati oleh kekompakan tim baik dari tim penilai dan tim tuan rumah… tidak tanggung tanggung kami datang dengan kelompok yang besar… lima mobil sekaligus… memang perantara kami sudah “baku kontak”  dengan salah seorang koordinator lorong pepaya ini yang sebenarnya lebih tepat sebagai “mami ” namun di luar perhitungan kami begitu lima mobil memasuki lorong pepaya ini orang orang yang tadi berdiri di sepanjang jalan untuk menawarkan jasa seks nya … rombongan kami berneti di tengah lorong dan kami mulai keluar ternyata….. mereka kalang kabut…. ada yang lari tunggang langgang …. menyelamatkan diri…. kabur lebih tepatnya…. untuk menghindari  garukan dari pihak berwenang seprti satpol pp atau dinas lain…. , saya langsung ber ucap  aduh salah strategi kita… seketika itu saya tersadar … langsung saja saya menhampiri rekan saya yang sebagai penghubung tersebut, saya katakan … wah kita kebanyakan pasukan nich turun langsung ke lorong ini, mereka kabur dikira ada operasi garukan , dengan cukup responsif perantara kami segera menuju rumah mami dan langsung kami jelaskan…. baru si mami memanggil manggil anak buahnya untuk kembali ke posisi karena ini bukan garukan. satu persatu di kumpulkannya oleh mami, lebih kurang nya sekitar lima anak buah mami… sempat kikuk juga karena jumlah orang di tim kami dengan orang yang akan kita ajak ngobrol tidak sebanding… akhirnya saya mulai mengajak ngobrol … untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan ketrampilan para perkerja seks ini terkait dengan issue penyakit menular seksual dan HIV dan AIDS termasuk diantara tentang Kondom…. setelah cukup informasi yang kami kumpulkan akhirnya kami mohon diri …. hick…. ada lesson learnt yang kami peroleh buat saya pribadi dan mungkin juga bisa saya bagi kepada temen temen semua… yaitu antara lain  : selain koordinasi dengan penguasa wilayah setempat, pastikan tim jangan terlalu banyak .. kalau tim pun harus dengan banyak orang mungkin sebaiknya memarkir mobil jauh sebelum memasuki lokasi observasi;  kaburnya para pekerja seks ini pun beralasan .. setelah kami korek dari mereka  tentang… mengapa mereka kabur ternyata jawabanya cukup sederhana … selamin ada pemeriksaan darah yang kadang kurang cukup dalam menyampikan tujuan di adakan pemeriksaan darah, dan juga kadang dilakukan pemeriksaan fisik selain pemeriksaan darah terhadap penyakit kelamin ….. semoga bermanfaat buat kita semua

by Exkuwin Suharyanto : menulis di:www.exkuwin.wordpress.com

 
1 Comment

Posted by pada 22 September, 2008 in catatan perjalanan, Gado - Gado, HIV, PMI

 

Kaitkata:

TONDANO ” Kota mirip Puncak Bogor”

Dalam kesempatan hidup yang telah di berikan Allah kepada saya, melalui kesempatan untuk bisa mengunjungi TONDANO, tondano sekarang ini adalah sal;ah satu Kota di propinsi Sulawesi Utara. menggunakan mobil dapt ditempuh kurang lebih  1 jam perjalanan. dengan melewati wilayah kota TOMOHON.

Suasana Tondano waktu itu adalah hujan yang cukup deras hingga di kulitku terasa cukup dingin seperti anda yang pernah tinggal di daerah puncak Bogor, pada saat itu saya kurang persiapan untuk membekali diri dengan membawa pakain yang cukup tebal. namun karena semangat tim dengan satu tujuan dimana saya bersama tim akan bertemu dengan salah satu tokoh pemuda gereja (GMIM= Gereja Masehi Injili di Minahasa), yang sebenarnya Kota Tondano bukan menjadi tujuan kunjungan saya, namun karena tokoh pemuda gereja itu hanya bisa di temui di Tondano, jadi kami sepakat untuk bertemu dengannya di salah satu gereja ” riedel wawalintouan”.  berharap dapat langsung bertemu dengan tokoh pemuda ini, namun sayang seribu sayang, kedatangan kami berbarengan dengan bapak Gubernur Sulut ” Sarundajang” dengan terpaksa kami harus menunggu prosesi pembukaan ‘Festival Seni pemuda dan Cerdas Cermat Alkitab se Sinode GMIM 2008″.

Dalam penantian yang cukup lama lebih dari 3 Jam akhirnya saya putuskan untuk membuat catatan kecil saya yang akan saya tulis di blogku. aku gunakan waktuku untuk berbincang dengan beberapa orang yang ada didekatku, dan akhirnya ku peroleh beberapa keterangan tentang tempat yang menarik antara lain : adalah  danau yang akhirnya di sebutlah kota ini dengan nama Tondano, karena ada dana air tawar, kami tidak sempat mengunjui dana tersebut hanya meliaht dari kejauha saja. Ada kampung jawa di daerah ini tinggal banyak masyarakat dari jawa, dan ini terbukti walaupun sebagian besar penduduk kota Tondano adalah kaum kristian, tapi hampir berdekatan dengan gereja yang kami kunjungi tidak jauh ada mesjid yang cukup besar berarda di dekat terminal dan pasar Tondano. Tempat yang patut dikunjungi adalah makan pehlawan SAM Ratulangi .

Penantian hingga hampir jam 17.30 kami tidak berhasil bertemu dengan tokoh pemuda gereja itu, maksud kami bertemu dengan tokoh pemuda ini adalah dalam rangka penjajagan program penanggulangan HIV di wilayah Sulawesi Utara, karena beliau sedang sibuk sekali mendamping bapak gubernur sulut dan bapak bupati minahasi. akhirnya melalui perantara kami bertemulah kami dengan sekertaris tokoh pemuda GMIM ” Franky Mocodompis, akhirnya kami utarakan maksud dan kunjungan kami yang intinya adalah membuka pintu kerjasama bareng dalam penanggulangan HIV antara PMI dan GMIM dengan targetnya adalah para remaja/pemuda dengan program pencegahan melalui beberapa kegiatan seperti pendidikan sebaya, penyuluhan, kampanye, penyedian berbagai media KIE untuk para pemuda di sulawesi utara.

Pertemuan yang singkat ini akhirnya kami undur diri karena hari telah sore menjelang gelap, dan harus kembali ke Manado. dalam perjalanan kembali saya mendapatkan cerita kalau di Tondano banyak sekali PUB, CAFE serta penginapan yang di duga juga mendunkung peningkatan kasus HIV ( walau belum ada bukti ilmiahnya) , kami akhirnya mampir ke salah satu komplek warung remang remang yang di situ sebenarnya tidak banyak sich yang di jualnya, hanya Jagung bakar dan juga beberapa minuman hangat serta panganan kecil lainnya, kami tertarik mampir ke tempat ini karena isunya tempat ini dijadikan tempat antara untuk bisnis “seks” sebagai tempat transaksi antara laki-laki hidung belang dengan perempuan penyedia jasa seks. walau kami masih terlalu sore, kami tidak menemukan penguat bisnis seks ini, tetapi kami dari terawangan kami dan informasi dari informan kami kuat dugaan tempat ini adalah tempat antara.

setelah pesanan kami ” Jagung bakar, teh hangat, sate keong ” kami Santap habis akhirnya kami melanjutkan perjalan pulang ke hotel di Manado tempat kami menginap. kami hanya berharap di tahun 2009-2010 semoga kami keluarga besar PMI bersama dengan komponen bangsa yang ada di Sulawesi utara khususnya KOta Manado, Bitung, dan Tomohon dapat memberikan kontribusi untuk menurunkan kasus HIV di wilayah ini atau setidaknya pengetahuan, sikap dan perilaku warga sekitar tentang HIV akan meningkat. Amien. ( Exkuwin, www.exkuwin.wordpress.com).

 
Leave a comment

Posted by pada 18 September, 2008 in catatan perjalanan, Gado - Gado, HIV, Hotel, PMI

 

Kaitkata:

Epidemi HIV & AIDS ‘bencana dunia’

Epidemi AIDS berkembang begitu parah di beberapa negara, sehingga seyogyanya digolongkan sebagai bencana, kata Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC). Krisis tersebut memenuhi definisi bencana sebagai kejadian di luar kemampuan menghadapi oleh satu masyarakat, kata IFRC. Laporan tahunan IFRC mengenai bencana dunia biasanya berkonsentrasi pada bencana alam tertentu, seperti gempa bumi. Laporan IFRC menyebutkan, sebagian dana yang dikeluarkan untuk AIDS  tidak mencapai mereka yang memerlukan. Tahun ini, Federasi Masyarakat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional menyimpang dari tradisi laporan bencana dunianya, dan berfokus pada yang kondisi yang dikatakan sebagai salah satu masalah jangka panjang dan kompleks yang menghadang dunia: epidemi HIV & AIDS ‘Pilihan lebih mudah’ Menurut standar apa pun, epidemi ini merupakan bencana global: 25 Juta korban meninggal, 33 juta orang hidup dengan mengidap HIV & AIDS, dan 7,000 infeksi baru setiap hari. IFRC mendapati tanggapan dunia tidak memadai. Mungkin ada miliar dollar dibelanjakan untuk memerangi AIDS, namun laporan IFRC memperingatkan, sebagian besar uang tadi tidak ditujukan sebagaimana mestinya dan tidak mencapai mereka yang paling memerlukan. “Ketika sejarah HIV and AIDS ditulis, saya rasa orang-orang akan mengatakan kita menuju ke pilihan-pilihan lebih mudah,” kata Dr Mukesh Kapila, wakil khusus the IFRC untuk HIV & AIDS. Pendidikan umum dan kesadaran umum telah dilakukan, kata Kapila, namun orang-orang berisiko seperti pekerja seks dan pengguna narkoba suntik sulit ditangani banyak pemerintah. Menurut IFRC, bidang lain yang dinilai kurang ditanggapi adalah pendekatan terhadap HIV/Aids selama bencana alam atau konflik. Faktor risiko untuk penyakit tersebut mungkin meningkat, sedangkan pada saat yang sama – dalam ketergesa-gesaan untuk menyampaikanh bantuan darurat – kebutuhan para pasien HIV & AIDS mungkin terlupakan.

Sumber :

http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2008/06/080626_aidsepidemic.shtml

http://www.ifrc.org/publicat/wdr2008/index.asp

 
2 Comments

Posted by pada 27 Juni, 2008 in HIV

 

Kaitkata:

Kunjungan Mr. Rijk Ke Indonesia

Dimulai dari tanggal 10-23 Juni 2008, HIV Advisor dari Hague : Mr. Rijk Van G mengunjungi Indonesia untuk melakukan peninjauan Program HIV Bantuan Palang Merah Belanda yang di danai oleh TMF. Dalam kesempatan itu, Mr. Rijk mengunjungi Kalimantan Timur dengan 4 PMI Cabang yaitu : Balikpapan, Samarinda, Nunukan dan Tarakan. Kunjungan ke lapangan bertemu dengan berbagai pihak antara lain : Pengurus PMI, Staf ( Tetap dan Program) Relawan, Instatsi terkait : Klinik VCT, KPAD, mahakam support group

Setelah kunjungan Mr. Rijk berkesempatan untuk melakukan review hasil kunjungannya di Indonesia yang di terima langsung oleh  Sekretaris Jenderal PMI Bapak, Iyang D. Sukandar : ada tiga hal utama yang perlu di catat :

  1. Adanya peningkatan yang cukup baik dari segi pelaksanaan program dibandingkan dengan satu tahun terakhir, terlihat dari kuantitas kegiatan.
  2. Impact program belum terlihat, perlu waktu sehingga disarankan untuk me ” focus ” kan target groupnya, sarannya adalah : Fokus pada kelompok remaja dan masih memungkinkan untuk kelompok kunci seperti WARIA karena sejauh ini mereka telah terlibat aktif di kegaiatan HIV PMI.
  3. akan dilakukan penyusunan anggaran ulang mengingat donor akan berganti dari TMF ke MFS untuk program tahun 2009-2010.

Secara umum Mr. Rijk sangat terkesan dengan keaktifan temen – temen pelaksana di lapangan dengan ucapan TERIMA KASIH untuk  :  Mba Siwi (PM), Rusli Para PO : Sukirno, Suntoro, Nadia, Ilham dan Juga pada PI, Fasilitator serta PE dan relawan lainnya, Tidak ketinggalan Pula untuk Mba Tika, dan Mbak Renske, Para Pengurus PMI disemua Tingkatan.

Bravo

 
Leave a comment

Posted by pada 24 Juni, 2008 in HIV

 

Kaitkata:

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.